Jumat, 28 Agustus 2009

Pemilu Usai: Apa Selanjutnya?

Pemilu telah usai, meskipun hasil masih sementara
SBY dinobatkan oleh lembaga survey sebagai calon presiden yang berhasil melanjutkan visinya. Dahulu, ketika SBY dan JK menduduki menara gading, terjadi masalah serius soal kekuatan pasangan tersebut menahan serangn parlemen. Meski tertatih, akhirnya slesai pula, dengan beberapa kali ancaman impeachment. Banyak pengamat politik melihat bahwa tidak berimbangnya kekuatan pemerintah di Parlemen mengakibatkan goyangnya rezim ini.

...
Untuk priode ini, SBY dan 24 partai pendukungnya dapat dikatakan di atas angin, baik di pemerintahan atau di parlemen. Suara demokrat yang menjadi mayoritas, didukung dengan PKS yang mampu mengail suara cukup signifikan, dan ditambah beberapa partai kecil yang bisa mendongkrak suara di parlemen lebih dari 50%, setidaknya memberikan posisi aman bagi presiden yang dibilang karismatik ini.

...
Ada tiga hal yang dapat diasumsikan dengan menguatnya posisi pemerintah di depan parlemen.
Pertama, pemerintah tidak plin-plan menjalankan kebijakannya dan melakukan terobosan politik, karena didukung oleh koalisi parlemen. Setidaknya hal ini memberikan rasa aman kepada pemerintah dan membuang rasa ragu-ragu.
Kedua, layaknya sistem politik yang baik, maka dibutuhkan satu oposisi politik yang kuat. Bila dahulu parlemen mampu berbicara dan menunjuk pemerintah, maka apakah setelah partai koalisi juga menguasai parlemen ini akan tetap bertaring mengontrol pemerintah. (salah satu fungsi parlemen adalah fungsi kontrol). Jika tidak, maka pemerintah justru menjadi penguasa tanpa batas. Dalam hal yang tidak kita harapkan, terjadi abuse of power ato bahkan otoritarianisme kebijakan. Ketiga, koalisi hanya di pemerintah (pilpres), tetapi tidak di Parlemen. akibatnya, meskipun partai koalisi di parlemen yang pro pemerintah besar, tetapi oposisi tetap akan berjalan seperti biasa, setidaknya kontrol.

...
Lalu apa episode selanjutnya? Apakah kita akan selalu berharap dengan PDI sebagai oposisi? Atau ada kemungkinan Golkar yang ikut bergabung menjadi oposan? Atau justru kekuatan koalisi pemerintahan yang akan berkuasa di parlemen? Tentu semuanya akan memberikan implikasi terhadap kebijakan politik Indonesia ke depan, lima tahun mendatang.

Hidup Indonesia.
By. Muhammad Hafiz

Penyakit itu adalah Ego

Dalam banyak karangannya Khaled A. Fadl banyak mengomentari tentang kelompok yang mengaku kaki tangan Tuhan. Secara umum ia menyatakan, tak ada yang mengetahui secara mutlak Pesan yang disampaikan Tuhan kepada manusia melalui al-Qur'an, semuanya meraba dan berusaha mencapai titik pengetahuan tertinggi. Untuk itulah, tidak satu pun orang yang bisa mengklaim kebenaran penafsirannya, karena semua orang bebas untuk berpendapat dan meraba.
Eksklusifitas penafsiran bukan tak berakibat, justru ia akan menutup kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik. Tak hanya itu, seseorang akan terperangkap pada klaim kebenaran absolut, Jubah yang hanya dimiliki-Nya. Untuk tidak mengatakan telah menyaingi kekuasaan Allah (syirik), klaim kita terkadang melampaui kemampuan yang kita miliki.
Demikian kiranya sebagai manusia yang lemah, kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan taraf pemahaman tertinggi, seperti halnya tertoreh dalam sejarah, Imam al-Syafi;i tak pernah menyalahkan Abu Hanifah yang liberal, atau sebaliknya. Pun demikian dengan Malik dan Ahmad. Lalu mengapa sebagai penerus yg tak sebanding dengan mereka kita merasa lebih baik dan paling benar?
Cukuplah sejarah memberikan "ibrah" bagi kita, bahwa klaim kebenaran, apalagi dengan pemaksaan tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat seluruh umat manusia beriman. Mu'tazilah ternyata tidak mampu membuat Imam Ahmad dan pengikut mengakui pemahaman teologisnya (Mu'tazilah), seperti halnya Hatta yang harus keluar dari panggung politik ketika Soekarto mulai otoriter.
Pun demikian dengan kekuatan Orde Baru, Islam Indonesia tetap selalu bernyanyi. Lalu, masihkah kita mengedepankan EGO untuk memaksakan orang lain dengan cara yang kejam?
Sampai hari ini, jam ini, menit ini dan detik kata terakhir tulisan ini diketik, saya tetap yakin bahwa Islam adalah anti kekerasan dan lebih mengutamakan kedamaian....
Wallahu A'lam...

by. Muhammad Hafiz

Sifat Orang Indonesia

Suatu ketika tiga anak muda berjalan lunglai seraya meratapi nasibnya. Tiba-tiba mereka tertuju pada satu batu yang bergerak-gerak di bawah pepohonan, dengan sayup-sayup terdengar suara "tolong-tolong". Tak ayal mereka pun mendekati batu dan bergegas untuk memberikan pertolongan. Dengan segala tenaga, ketiganya menyerengis menggeser batu yang menutupi goa tersebut.

Bukannya senang telah menolong orang, mereka malah terpental dan takut histeris tatkala melihat sesosok tubuh yang besar, hitam, dan menakutkan. Ketakutan itu semakin memuncak ketika sesosok yang ternyata JIN itu semakin mendekat, seolah ingin melumat ketiganya.

Namun yang terjadi tak sesadis yg dipikirkan, dengan lemah lembut Jin tersebut bertanya kepada ketiganya: "Apapun yang kalian minta, pasti aku kabulkan. Tapi untuk setiap orang hanya satu saja". Dengan terperanga, ketiganya pun mengelus dada dan langsung memikirkan apa yang selama ini mereka dambakan.

Singkat cerita: Abdul, salah seorang dari ketiganya langsung meminta kepada jin untuk membawanya ke Mekah, karena sudah lama ia ingin naik haji. "Pu.......ing", terlemparlah Abdul tetap di depan Ka'bah. Ia pun senang. Sementara Soleh meminta kepada Jin untuk membawanya ke Perancis, jalan-jalan, hidup mewah, bersenang-senang, dan semua kenikmatan duniawi. Dilempar pulalah Soleh ke Perancis dengan segala harapan dan permintaannya.

Yang terakhir tinggal Ahmad, yang bingung meminta apa, sedangkan kedua temannya sudah bergembira dg pilihan masing-masing. Karena kebingungan yang memuncak, ia pun merasa sangat marah dan iri dengan kedua temannya. Yang satu ke Mekah, yang satu lagi ke Perancis, sedangkan dia sendiri bingung mau ke mana.

Tak beberapa menit ia bersuara, "Aku meminta kepadamu wahai Jin, pulangkan kedua temanku tadi ke hadapan ku". Karena permintaan dari tuannya, Jin pun tidak bisa menolak permintaan dan dikembalikan keduanya di tempat semula. Wal hasil, ketiganya berada pada kondisi semula. []

Apa yang anda lakukan jika anda sebagai SOLEH?


Cerita diambil dari Cak Nun
TIM 2008
Secara historis Indonesia tak dapat dipisahkan dari kondisi dan struktur sosial masyarakatnya, yang - selama berabad-abad - tertata rapi dalam pola tingkahlaku mrk. Menurut beberapa budayawan, salah satu alasan Islam cepat diterima oleh bangsa Indonesia, karena Islam memiliki spirit yang memandang manusia setara, sama dan sederajat. Setidaknya disebutkan, "Inna akramakum 'indallahi atqokum", yang mampu meminimalisasi struktur masyarakat Hindu yang berkasta-kasta. Masuknya Islam juga memberika spirit terhadap etos kerja yang kuat, karena dalam Islam nilai ekonomi dipandang tinggi, (meskipun tidak demikian menurut Weber).

***

Peradaban dan nilai yg dibawa Islam pun masih dirasakan di beberapa pola laku masyarakat Indonesia, meskipun daerah tersebut dapat dihitung jari. Kemandirian, kesamaan, n memandang manusia setara yang merasuk dlm alam bwh sadar masyarkat ternyata dibiaskan kembali dengan munculnya kelas menengah Indonesia awal abad ke-20. Fenomena direkrutnya masyarakat terdidik menjadi petugas Kolonial justru memupuk kembali nilai-nilai egaliterianisme yg telah tertanam dan membentuk masyarakat yg berkasta-kasta, meski tak sama dg keadaan seblmnya (kasta dalam masyarakat Hindu).

Tingkatan masyarakat ini tidak hanya menjadikan bangsa Indonesia terpecah belah, tapi akibat yg paling signifikn keadaan tersebut menjadi penghalang untuk mengembangkan masyarakat Indonesia yg mandiri a/ sifat tunduk, patuh, dan menghormati kelompok atas secara berlebihan. Akibatnya, tak jarang orang Indonesia sendiri merasa lebih rendah, hina, tak berpendidikan, dan ragu-ragu bila berhadapan dengan kelompok/individu lain yg lebih maju, baik secara ekonomi, sosial, politik ataupun budaya. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang "manut" dan "lesu", tak bergairah, tak inovatif, cenderung meniru dan selalu menerima. Di mana kekuatan bangsa Indonesia seperti yang diperankan oleh Gajah Mada. Atau keberanian yang dimiliki oleh Ken Arok, atau peranperan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Dalam satu analisa dinyatakan bahwa Indonesia belum siap untuk berdemokrasi, karena masyarakatnya masih tradisional, sedangkan demokrasi sendiri cocok untk masyarakat yang telah dewasa secara politik. Pun demikian disebutkan bahwa salah alasan mengapa terorisme menjadi subur di Indonesia, karena orang Indonesia selalu menganggap orang luar, orang asing, orang bule, atau orang 'Areb (bukan Areb nengdi), memiliki kedudukan dan keshalihan yang lebih tinggi. Dan tak jarang dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati masyarakat bangsa ini harus tunduk dengan keangkuhan dan kepongahan bangsa lain. Dengan ini, tak heran bila bangsa Indonesia sering disebut dengan bangsa yang ramah dan lemah lembut, karena hal ini pula yang menjadi alasan mengapa Belanda memilih Nusantara sebagai tempat kolonialisasi dan eksis di Nusantara ratusan tahun.

Kita orang pertama yang menghujat kekejaman pemerintah Saudi atau Malaysia yang mebiarkan warga negara (Indonesia) diperlakukan tidak manusiawi, tetapi kita pula orang pertama yang mencium tangan mereka ketika mereka datang ke negeri ini. Kita menjadi orang pertama yang menginginkan Tuhan (Allah) menjadi satu-satunya Zat Paling Maha, tetapi ketika seorang hartawan, pejabat dan makhluk yang meminjam keagungan-Nya datang mengahmpiri kita orang yang pertama mencium kaki dan menerima segala perlakuannya demi seonggah uang atau jabatan. Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Lalu, ada apa dengan orang Indonesia? [*]



Wallahu A'lam Bis Shawab
Bangkitlah Bangsaku

By. Muhammad Hafiz

Merdeka dan Kebebasan

Merdeka juga berarti “istiqlal” atau “pembebasan”. Ada beberapa makna yg tersirat dalam kata ini. Secara teologis orang memaknainya dengan keutuhan imam kepada-Nya, secara politik org memaknainya kebebasan dr penjajahan, dan secara sosial, org memaknainya dg kebebasan dr segala hegemoni yg mengekang. Kebabasan adalah melepaskan diri dari segala kungkungan dan ikatan materi yg menidurkan, melelapkan, menghinakan, menjerusmukan, menyengsarakan, dan sebagainya.

Seiring dengan perubahan zaman, saat ini tak ditemui lagi ekspansi militer seperti sedia kala, kecuali di beberapa wilayah Timur Tengah yg tetap bergejolak. Bangun dari tidur kita tak menemui lagi tenk-tenk baja, suara letupan bom, atau suara senapan, dar, der, dor..Pun demikian tak kita jumpai para Kompeni yang “operdomen” petantang-petenteng di wilayah Indonesia. Yah…ini sangat wajar, karena Indonesia telah merdeka “secara politik”. Namun, apakah kita juga merdeka secara budaya?

Sulit untuk menjawab pertanyaan terakhir ini, karena ternyata Indonesia yg plural ini jg menggambarkan fenomena yg berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain. Di satu sisi ada banyak anak2 yg pergi ke sekolah “mewah”, dengan segala fasilitas dan kemegahan gedungnya, namun di sisi yg lain jg masih banyak anak-anak Indonesia yg putus sekolah hanya karena tak punya biaya. Pun juga banyak tokoh, aktor, dan calo politik yg bias besar, tetapi juga banyak warga negara yang “katanya” merdeka ini harus menjual suaranya karena sesuap nasi. Dan tentunya, adanya banyak orang Indonesia yg hidup dalam kemewahan, tapi masih banyak pula yg tak mampu hidup dalam kelayakan.

Dalam beberapa tulisan disebutkan, hanya Arminj Pane dengan Belenggu-nya dan Chairil Anwar dengan Aku-nya yg baru merasakan kemerdekaan. Arminj Pane yang hidup sebelum kemerdekaan, tapi merasakan ruh pembebasan. Pun sama Chairil Anwar, meski merasakan kemerdekaan, tapi AKU-nya baru diklaim merdeka. Ada apa sebetulnya? Mungkinkah kita termasuk orang yang belum merdeka? Lalu bagaimana dengan slogan kita kala kecil, “merdeka adalah melanjutkan perjuangan para pahlawan”.

Panjat Pinang: Antara Duka dan Tawa

Belanda cukup apik dlm menjajah Indonesia. Setidaknya 350 thn mampu meredam kebisuan bangsa yg terkenal lembut dan ramah ini. Kelihaiannya dlm mengatur strategi politik lah membuatnya langgeng bercokol.

Di kala bangsa ini sengsara, tak sepenuhnya kesedihan itu ditinggalkan. Seonggok kesenangan pun disisakan, dengan permainan Panjat Pinang. Panjat pinang menjadi simbol kekuasaan penjajah, karena dlm posisi kesusahan untuk mendapatkan hadiah, dg berlumuran oli dan tanah, para Demang duduk santai dan terbahak-bahak di kursi sambil menyaksikan. Ya, itulah penderitaan bangsa ini kala itu.

Saat ini, panjat pinang pun menjadi kesenangan, kegemaran, bahkan ritual yg tak boleh ditinggalkan saat ulang tahun RI. Semoga, tak hanya menjadi rutinitas, tetapi selalu mengingatkan kepada kita, betapa panjangnya bangsa ini memikul beban peradaban.

Panjat Pinang: Antara Duka dan Tawa

Belanda cukup apik dlm menjajah Indonesia. Setidaknya 350 thn mampu meredam kebisuan bangsa yg terkenal lembut dan ramah ini. Kelihaiannya dlm mengatur strategi politik lah membuatnya langgeng bercokol.

Di kala bangsa ini sengsara, tak sepenuhnya kesedihan itu ditinggalkan. Seonggok kesenangan pun disisakan, dengan permainan Panjat Pinang. Panjat pinang menjadi simbol kekuasaan penjajah, karena dlm posisi kesusahan untuk mendapatkan hadiah, dg berlumuran oli dan tanah, para Demang duduk santai dan terbahak-bahak di kursi sambil menyaksikan. Ya, itulah penderitaan bangsa ini kala itu.

Saat ini, panjat pinang pun menjadi kesenangan, kegemaran, bahkan ritual yg tak boleh ditinggalkan saat ulang tahun RI. Semoga, tak hanya menjadi rutinitas, tetapi selalu mengingatkan kepada kita, betapa panjangnya bangsa ini memikul beban peradaban.