Pemilu telah usai, meskipun hasil masih sementara
SBY dinobatkan oleh lembaga survey sebagai calon presiden yang berhasil melanjutkan visinya. Dahulu, ketika SBY dan JK menduduki menara gading, terjadi masalah serius soal kekuatan pasangan tersebut menahan serangn parlemen. Meski tertatih, akhirnya slesai pula, dengan beberapa kali ancaman impeachment. Banyak pengamat politik melihat bahwa tidak berimbangnya kekuatan pemerintah di Parlemen mengakibatkan goyangnya rezim ini.
...
Untuk priode ini, SBY dan 24 partai pendukungnya dapat dikatakan di atas angin, baik di pemerintahan atau di parlemen. Suara demokrat yang menjadi mayoritas, didukung dengan PKS yang mampu mengail suara cukup signifikan, dan ditambah beberapa partai kecil yang bisa mendongkrak suara di parlemen lebih dari 50%, setidaknya memberikan posisi aman bagi presiden yang dibilang karismatik ini.
...
Ada tiga hal yang dapat diasumsikan dengan menguatnya posisi pemerintah di depan parlemen.
Pertama, pemerintah tidak plin-plan menjalankan kebijakannya dan melakukan terobosan politik, karena didukung oleh koalisi parlemen. Setidaknya hal ini memberikan rasa aman kepada pemerintah dan membuang rasa ragu-ragu.
Kedua, layaknya sistem politik yang baik, maka dibutuhkan satu oposisi politik yang kuat. Bila dahulu parlemen mampu berbicara dan menunjuk pemerintah, maka apakah setelah partai koalisi juga menguasai parlemen ini akan tetap bertaring mengontrol pemerintah. (salah satu fungsi parlemen adalah fungsi kontrol). Jika tidak, maka pemerintah justru menjadi penguasa tanpa batas. Dalam hal yang tidak kita harapkan, terjadi abuse of power ato bahkan otoritarianisme kebijakan. Ketiga, koalisi hanya di pemerintah (pilpres), tetapi tidak di Parlemen. akibatnya, meskipun partai koalisi di parlemen yang pro pemerintah besar, tetapi oposisi tetap akan berjalan seperti biasa, setidaknya kontrol.
...
Lalu apa episode selanjutnya? Apakah kita akan selalu berharap dengan PDI sebagai oposisi? Atau ada kemungkinan Golkar yang ikut bergabung menjadi oposan? Atau justru kekuatan koalisi pemerintahan yang akan berkuasa di parlemen? Tentu semuanya akan memberikan implikasi terhadap kebijakan politik Indonesia ke depan, lima tahun mendatang.
Hidup Indonesia.
By. Muhammad Hafiz
Jumat, 28 Agustus 2009
Penyakit itu adalah Ego
Dalam banyak karangannya Khaled A. Fadl banyak mengomentari tentang kelompok yang mengaku kaki tangan Tuhan. Secara umum ia menyatakan, tak ada yang mengetahui secara mutlak Pesan yang disampaikan Tuhan kepada manusia melalui al-Qur'an, semuanya meraba dan berusaha mencapai titik pengetahuan tertinggi. Untuk itulah, tidak satu pun orang yang bisa mengklaim kebenaran penafsirannya, karena semua orang bebas untuk berpendapat dan meraba.
Eksklusifitas penafsiran bukan tak berakibat, justru ia akan menutup kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik. Tak hanya itu, seseorang akan terperangkap pada klaim kebenaran absolut, Jubah yang hanya dimiliki-Nya. Untuk tidak mengatakan telah menyaingi kekuasaan Allah (syirik), klaim kita terkadang melampaui kemampuan yang kita miliki.
Demikian kiranya sebagai manusia yang lemah, kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan taraf pemahaman tertinggi, seperti halnya tertoreh dalam sejarah, Imam al-Syafi;i tak pernah menyalahkan Abu Hanifah yang liberal, atau sebaliknya. Pun demikian dengan Malik dan Ahmad. Lalu mengapa sebagai penerus yg tak sebanding dengan mereka kita merasa lebih baik dan paling benar?
Cukuplah sejarah memberikan "ibrah" bagi kita, bahwa klaim kebenaran, apalagi dengan pemaksaan tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat seluruh umat manusia beriman. Mu'tazilah ternyata tidak mampu membuat Imam Ahmad dan pengikut mengakui pemahaman teologisnya (Mu'tazilah), seperti halnya Hatta yang harus keluar dari panggung politik ketika Soekarto mulai otoriter.
Pun demikian dengan kekuatan Orde Baru, Islam Indonesia tetap selalu bernyanyi. Lalu, masihkah kita mengedepankan EGO untuk memaksakan orang lain dengan cara yang kejam?
Sampai hari ini, jam ini, menit ini dan detik kata terakhir tulisan ini diketik, saya tetap yakin bahwa Islam adalah anti kekerasan dan lebih mengutamakan kedamaian....
Wallahu A'lam...
by. Muhammad Hafiz
Eksklusifitas penafsiran bukan tak berakibat, justru ia akan menutup kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik. Tak hanya itu, seseorang akan terperangkap pada klaim kebenaran absolut, Jubah yang hanya dimiliki-Nya. Untuk tidak mengatakan telah menyaingi kekuasaan Allah (syirik), klaim kita terkadang melampaui kemampuan yang kita miliki.
Demikian kiranya sebagai manusia yang lemah, kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan taraf pemahaman tertinggi, seperti halnya tertoreh dalam sejarah, Imam al-Syafi;i tak pernah menyalahkan Abu Hanifah yang liberal, atau sebaliknya. Pun demikian dengan Malik dan Ahmad. Lalu mengapa sebagai penerus yg tak sebanding dengan mereka kita merasa lebih baik dan paling benar?
Cukuplah sejarah memberikan "ibrah" bagi kita, bahwa klaim kebenaran, apalagi dengan pemaksaan tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat seluruh umat manusia beriman. Mu'tazilah ternyata tidak mampu membuat Imam Ahmad dan pengikut mengakui pemahaman teologisnya (Mu'tazilah), seperti halnya Hatta yang harus keluar dari panggung politik ketika Soekarto mulai otoriter.
Pun demikian dengan kekuatan Orde Baru, Islam Indonesia tetap selalu bernyanyi. Lalu, masihkah kita mengedepankan EGO untuk memaksakan orang lain dengan cara yang kejam?
Sampai hari ini, jam ini, menit ini dan detik kata terakhir tulisan ini diketik, saya tetap yakin bahwa Islam adalah anti kekerasan dan lebih mengutamakan kedamaian....
Wallahu A'lam...
by. Muhammad Hafiz
Sifat Orang Indonesia
Suatu ketika tiga anak muda berjalan lunglai seraya meratapi nasibnya. Tiba-tiba mereka tertuju pada satu batu yang bergerak-gerak di bawah pepohonan, dengan sayup-sayup terdengar suara "tolong-tolong". Tak ayal mereka pun mendekati batu dan bergegas untuk memberikan pertolongan. Dengan segala tenaga, ketiganya menyerengis menggeser batu yang menutupi goa tersebut.
Bukannya senang telah menolong orang, mereka malah terpental dan takut histeris tatkala melihat sesosok tubuh yang besar, hitam, dan menakutkan. Ketakutan itu semakin memuncak ketika sesosok yang ternyata JIN itu semakin mendekat, seolah ingin melumat ketiganya.
Namun yang terjadi tak sesadis yg dipikirkan, dengan lemah lembut Jin tersebut bertanya kepada ketiganya: "Apapun yang kalian minta, pasti aku kabulkan. Tapi untuk setiap orang hanya satu saja". Dengan terperanga, ketiganya pun mengelus dada dan langsung memikirkan apa yang selama ini mereka dambakan.
Singkat cerita: Abdul, salah seorang dari ketiganya langsung meminta kepada jin untuk membawanya ke Mekah, karena sudah lama ia ingin naik haji. "Pu.......ing", terlemparlah Abdul tetap di depan Ka'bah. Ia pun senang. Sementara Soleh meminta kepada Jin untuk membawanya ke Perancis, jalan-jalan, hidup mewah, bersenang-senang, dan semua kenikmatan duniawi. Dilempar pulalah Soleh ke Perancis dengan segala harapan dan permintaannya.
Yang terakhir tinggal Ahmad, yang bingung meminta apa, sedangkan kedua temannya sudah bergembira dg pilihan masing-masing. Karena kebingungan yang memuncak, ia pun merasa sangat marah dan iri dengan kedua temannya. Yang satu ke Mekah, yang satu lagi ke Perancis, sedangkan dia sendiri bingung mau ke mana.
Tak beberapa menit ia bersuara, "Aku meminta kepadamu wahai Jin, pulangkan kedua temanku tadi ke hadapan ku". Karena permintaan dari tuannya, Jin pun tidak bisa menolak permintaan dan dikembalikan keduanya di tempat semula. Wal hasil, ketiganya berada pada kondisi semula. []
Apa yang anda lakukan jika anda sebagai SOLEH?
Cerita diambil dari Cak Nun
TIM 2008
Bukannya senang telah menolong orang, mereka malah terpental dan takut histeris tatkala melihat sesosok tubuh yang besar, hitam, dan menakutkan. Ketakutan itu semakin memuncak ketika sesosok yang ternyata JIN itu semakin mendekat, seolah ingin melumat ketiganya.
Namun yang terjadi tak sesadis yg dipikirkan, dengan lemah lembut Jin tersebut bertanya kepada ketiganya: "Apapun yang kalian minta, pasti aku kabulkan. Tapi untuk setiap orang hanya satu saja". Dengan terperanga, ketiganya pun mengelus dada dan langsung memikirkan apa yang selama ini mereka dambakan.
Singkat cerita: Abdul, salah seorang dari ketiganya langsung meminta kepada jin untuk membawanya ke Mekah, karena sudah lama ia ingin naik haji. "Pu.......ing", terlemparlah Abdul tetap di depan Ka'bah. Ia pun senang. Sementara Soleh meminta kepada Jin untuk membawanya ke Perancis, jalan-jalan, hidup mewah, bersenang-senang, dan semua kenikmatan duniawi. Dilempar pulalah Soleh ke Perancis dengan segala harapan dan permintaannya.
Yang terakhir tinggal Ahmad, yang bingung meminta apa, sedangkan kedua temannya sudah bergembira dg pilihan masing-masing. Karena kebingungan yang memuncak, ia pun merasa sangat marah dan iri dengan kedua temannya. Yang satu ke Mekah, yang satu lagi ke Perancis, sedangkan dia sendiri bingung mau ke mana.
Tak beberapa menit ia bersuara, "Aku meminta kepadamu wahai Jin, pulangkan kedua temanku tadi ke hadapan ku". Karena permintaan dari tuannya, Jin pun tidak bisa menolak permintaan dan dikembalikan keduanya di tempat semula. Wal hasil, ketiganya berada pada kondisi semula. []
Apa yang anda lakukan jika anda sebagai SOLEH?
Cerita diambil dari Cak Nun
TIM 2008
Secara historis Indonesia tak dapat dipisahkan dari kondisi dan struktur sosial masyarakatnya, yang - selama berabad-abad - tertata rapi dalam pola tingkahlaku mrk. Menurut beberapa budayawan, salah satu alasan Islam cepat diterima oleh bangsa Indonesia, karena Islam memiliki spirit yang memandang manusia setara, sama dan sederajat. Setidaknya disebutkan, "Inna akramakum 'indallahi atqokum", yang mampu meminimalisasi struktur masyarakat Hindu yang berkasta-kasta. Masuknya Islam juga memberika spirit terhadap etos kerja yang kuat, karena dalam Islam nilai ekonomi dipandang tinggi, (meskipun tidak demikian menurut Weber).
***
Peradaban dan nilai yg dibawa Islam pun masih dirasakan di beberapa pola laku masyarakat Indonesia, meskipun daerah tersebut dapat dihitung jari. Kemandirian, kesamaan, n memandang manusia setara yang merasuk dlm alam bwh sadar masyarkat ternyata dibiaskan kembali dengan munculnya kelas menengah Indonesia awal abad ke-20. Fenomena direkrutnya masyarakat terdidik menjadi petugas Kolonial justru memupuk kembali nilai-nilai egaliterianisme yg telah tertanam dan membentuk masyarakat yg berkasta-kasta, meski tak sama dg keadaan seblmnya (kasta dalam masyarakat Hindu).
Tingkatan masyarakat ini tidak hanya menjadikan bangsa Indonesia terpecah belah, tapi akibat yg paling signifikn keadaan tersebut menjadi penghalang untuk mengembangkan masyarakat Indonesia yg mandiri a/ sifat tunduk, patuh, dan menghormati kelompok atas secara berlebihan. Akibatnya, tak jarang orang Indonesia sendiri merasa lebih rendah, hina, tak berpendidikan, dan ragu-ragu bila berhadapan dengan kelompok/individu lain yg lebih maju, baik secara ekonomi, sosial, politik ataupun budaya. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang "manut" dan "lesu", tak bergairah, tak inovatif, cenderung meniru dan selalu menerima. Di mana kekuatan bangsa Indonesia seperti yang diperankan oleh Gajah Mada. Atau keberanian yang dimiliki oleh Ken Arok, atau peranperan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dalam satu analisa dinyatakan bahwa Indonesia belum siap untuk berdemokrasi, karena masyarakatnya masih tradisional, sedangkan demokrasi sendiri cocok untk masyarakat yang telah dewasa secara politik. Pun demikian disebutkan bahwa salah alasan mengapa terorisme menjadi subur di Indonesia, karena orang Indonesia selalu menganggap orang luar, orang asing, orang bule, atau orang 'Areb (bukan Areb nengdi), memiliki kedudukan dan keshalihan yang lebih tinggi. Dan tak jarang dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati masyarakat bangsa ini harus tunduk dengan keangkuhan dan kepongahan bangsa lain. Dengan ini, tak heran bila bangsa Indonesia sering disebut dengan bangsa yang ramah dan lemah lembut, karena hal ini pula yang menjadi alasan mengapa Belanda memilih Nusantara sebagai tempat kolonialisasi dan eksis di Nusantara ratusan tahun.
Kita orang pertama yang menghujat kekejaman pemerintah Saudi atau Malaysia yang mebiarkan warga negara (Indonesia) diperlakukan tidak manusiawi, tetapi kita pula orang pertama yang mencium tangan mereka ketika mereka datang ke negeri ini. Kita menjadi orang pertama yang menginginkan Tuhan (Allah) menjadi satu-satunya Zat Paling Maha, tetapi ketika seorang hartawan, pejabat dan makhluk yang meminjam keagungan-Nya datang mengahmpiri kita orang yang pertama mencium kaki dan menerima segala perlakuannya demi seonggah uang atau jabatan. Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Lalu, ada apa dengan orang Indonesia? [*]
Wallahu A'lam Bis Shawab
Bangkitlah Bangsaku
By. Muhammad Hafiz
***
Peradaban dan nilai yg dibawa Islam pun masih dirasakan di beberapa pola laku masyarakat Indonesia, meskipun daerah tersebut dapat dihitung jari. Kemandirian, kesamaan, n memandang manusia setara yang merasuk dlm alam bwh sadar masyarkat ternyata dibiaskan kembali dengan munculnya kelas menengah Indonesia awal abad ke-20. Fenomena direkrutnya masyarakat terdidik menjadi petugas Kolonial justru memupuk kembali nilai-nilai egaliterianisme yg telah tertanam dan membentuk masyarakat yg berkasta-kasta, meski tak sama dg keadaan seblmnya (kasta dalam masyarakat Hindu).
Tingkatan masyarakat ini tidak hanya menjadikan bangsa Indonesia terpecah belah, tapi akibat yg paling signifikn keadaan tersebut menjadi penghalang untuk mengembangkan masyarakat Indonesia yg mandiri a/ sifat tunduk, patuh, dan menghormati kelompok atas secara berlebihan. Akibatnya, tak jarang orang Indonesia sendiri merasa lebih rendah, hina, tak berpendidikan, dan ragu-ragu bila berhadapan dengan kelompok/individu lain yg lebih maju, baik secara ekonomi, sosial, politik ataupun budaya. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang "manut" dan "lesu", tak bergairah, tak inovatif, cenderung meniru dan selalu menerima. Di mana kekuatan bangsa Indonesia seperti yang diperankan oleh Gajah Mada. Atau keberanian yang dimiliki oleh Ken Arok, atau peranperan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dalam satu analisa dinyatakan bahwa Indonesia belum siap untuk berdemokrasi, karena masyarakatnya masih tradisional, sedangkan demokrasi sendiri cocok untk masyarakat yang telah dewasa secara politik. Pun demikian disebutkan bahwa salah alasan mengapa terorisme menjadi subur di Indonesia, karena orang Indonesia selalu menganggap orang luar, orang asing, orang bule, atau orang 'Areb (bukan Areb nengdi), memiliki kedudukan dan keshalihan yang lebih tinggi. Dan tak jarang dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati masyarakat bangsa ini harus tunduk dengan keangkuhan dan kepongahan bangsa lain. Dengan ini, tak heran bila bangsa Indonesia sering disebut dengan bangsa yang ramah dan lemah lembut, karena hal ini pula yang menjadi alasan mengapa Belanda memilih Nusantara sebagai tempat kolonialisasi dan eksis di Nusantara ratusan tahun.
Kita orang pertama yang menghujat kekejaman pemerintah Saudi atau Malaysia yang mebiarkan warga negara (Indonesia) diperlakukan tidak manusiawi, tetapi kita pula orang pertama yang mencium tangan mereka ketika mereka datang ke negeri ini. Kita menjadi orang pertama yang menginginkan Tuhan (Allah) menjadi satu-satunya Zat Paling Maha, tetapi ketika seorang hartawan, pejabat dan makhluk yang meminjam keagungan-Nya datang mengahmpiri kita orang yang pertama mencium kaki dan menerima segala perlakuannya demi seonggah uang atau jabatan. Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Lalu, ada apa dengan orang Indonesia? [*]
Wallahu A'lam Bis Shawab
Bangkitlah Bangsaku
By. Muhammad Hafiz
Merdeka dan Kebebasan
Merdeka juga berarti “istiqlal” atau “pembebasan”. Ada beberapa makna yg tersirat dalam kata ini. Secara teologis orang memaknainya dengan keutuhan imam kepada-Nya, secara politik org memaknainya kebebasan dr penjajahan, dan secara sosial, org memaknainya dg kebebasan dr segala hegemoni yg mengekang. Kebabasan adalah melepaskan diri dari segala kungkungan dan ikatan materi yg menidurkan, melelapkan, menghinakan, menjerusmukan, menyengsarakan, dan sebagainya.
Seiring dengan perubahan zaman, saat ini tak ditemui lagi ekspansi militer seperti sedia kala, kecuali di beberapa wilayah Timur Tengah yg tetap bergejolak. Bangun dari tidur kita tak menemui lagi tenk-tenk baja, suara letupan bom, atau suara senapan, dar, der, dor..Pun demikian tak kita jumpai para Kompeni yang “operdomen” petantang-petenteng di wilayah Indonesia. Yah…ini sangat wajar, karena Indonesia telah merdeka “secara politik”. Namun, apakah kita juga merdeka secara budaya?
Sulit untuk menjawab pertanyaan terakhir ini, karena ternyata Indonesia yg plural ini jg menggambarkan fenomena yg berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain. Di satu sisi ada banyak anak2 yg pergi ke sekolah “mewah”, dengan segala fasilitas dan kemegahan gedungnya, namun di sisi yg lain jg masih banyak anak-anak Indonesia yg putus sekolah hanya karena tak punya biaya. Pun juga banyak tokoh, aktor, dan calo politik yg bias besar, tetapi juga banyak warga negara yang “katanya” merdeka ini harus menjual suaranya karena sesuap nasi. Dan tentunya, adanya banyak orang Indonesia yg hidup dalam kemewahan, tapi masih banyak pula yg tak mampu hidup dalam kelayakan.
Dalam beberapa tulisan disebutkan, hanya Arminj Pane dengan Belenggu-nya dan Chairil Anwar dengan Aku-nya yg baru merasakan kemerdekaan. Arminj Pane yang hidup sebelum kemerdekaan, tapi merasakan ruh pembebasan. Pun sama Chairil Anwar, meski merasakan kemerdekaan, tapi AKU-nya baru diklaim merdeka. Ada apa sebetulnya? Mungkinkah kita termasuk orang yang belum merdeka? Lalu bagaimana dengan slogan kita kala kecil, “merdeka adalah melanjutkan perjuangan para pahlawan”.
Seiring dengan perubahan zaman, saat ini tak ditemui lagi ekspansi militer seperti sedia kala, kecuali di beberapa wilayah Timur Tengah yg tetap bergejolak. Bangun dari tidur kita tak menemui lagi tenk-tenk baja, suara letupan bom, atau suara senapan, dar, der, dor..Pun demikian tak kita jumpai para Kompeni yang “operdomen” petantang-petenteng di wilayah Indonesia. Yah…ini sangat wajar, karena Indonesia telah merdeka “secara politik”. Namun, apakah kita juga merdeka secara budaya?
Sulit untuk menjawab pertanyaan terakhir ini, karena ternyata Indonesia yg plural ini jg menggambarkan fenomena yg berbeda-beda dari satu tempat ke tempat yang lain. Di satu sisi ada banyak anak2 yg pergi ke sekolah “mewah”, dengan segala fasilitas dan kemegahan gedungnya, namun di sisi yg lain jg masih banyak anak-anak Indonesia yg putus sekolah hanya karena tak punya biaya. Pun juga banyak tokoh, aktor, dan calo politik yg bias besar, tetapi juga banyak warga negara yang “katanya” merdeka ini harus menjual suaranya karena sesuap nasi. Dan tentunya, adanya banyak orang Indonesia yg hidup dalam kemewahan, tapi masih banyak pula yg tak mampu hidup dalam kelayakan.
Dalam beberapa tulisan disebutkan, hanya Arminj Pane dengan Belenggu-nya dan Chairil Anwar dengan Aku-nya yg baru merasakan kemerdekaan. Arminj Pane yang hidup sebelum kemerdekaan, tapi merasakan ruh pembebasan. Pun sama Chairil Anwar, meski merasakan kemerdekaan, tapi AKU-nya baru diklaim merdeka. Ada apa sebetulnya? Mungkinkah kita termasuk orang yang belum merdeka? Lalu bagaimana dengan slogan kita kala kecil, “merdeka adalah melanjutkan perjuangan para pahlawan”.
Panjat Pinang: Antara Duka dan Tawa
Belanda cukup apik dlm menjajah Indonesia. Setidaknya 350 thn mampu meredam kebisuan bangsa yg terkenal lembut dan ramah ini. Kelihaiannya dlm mengatur strategi politik lah membuatnya langgeng bercokol.
Di kala bangsa ini sengsara, tak sepenuhnya kesedihan itu ditinggalkan. Seonggok kesenangan pun disisakan, dengan permainan Panjat Pinang. Panjat pinang menjadi simbol kekuasaan penjajah, karena dlm posisi kesusahan untuk mendapatkan hadiah, dg berlumuran oli dan tanah, para Demang duduk santai dan terbahak-bahak di kursi sambil menyaksikan. Ya, itulah penderitaan bangsa ini kala itu.
Saat ini, panjat pinang pun menjadi kesenangan, kegemaran, bahkan ritual yg tak boleh ditinggalkan saat ulang tahun RI. Semoga, tak hanya menjadi rutinitas, tetapi selalu mengingatkan kepada kita, betapa panjangnya bangsa ini memikul beban peradaban.
Di kala bangsa ini sengsara, tak sepenuhnya kesedihan itu ditinggalkan. Seonggok kesenangan pun disisakan, dengan permainan Panjat Pinang. Panjat pinang menjadi simbol kekuasaan penjajah, karena dlm posisi kesusahan untuk mendapatkan hadiah, dg berlumuran oli dan tanah, para Demang duduk santai dan terbahak-bahak di kursi sambil menyaksikan. Ya, itulah penderitaan bangsa ini kala itu.
Saat ini, panjat pinang pun menjadi kesenangan, kegemaran, bahkan ritual yg tak boleh ditinggalkan saat ulang tahun RI. Semoga, tak hanya menjadi rutinitas, tetapi selalu mengingatkan kepada kita, betapa panjangnya bangsa ini memikul beban peradaban.
Panjat Pinang: Antara Duka dan Tawa
Belanda cukup apik dlm menjajah Indonesia. Setidaknya 350 thn mampu meredam kebisuan bangsa yg terkenal lembut dan ramah ini. Kelihaiannya dlm mengatur strategi politik lah membuatnya langgeng bercokol.
Di kala bangsa ini sengsara, tak sepenuhnya kesedihan itu ditinggalkan. Seonggok kesenangan pun disisakan, dengan permainan Panjat Pinang. Panjat pinang menjadi simbol kekuasaan penjajah, karena dlm posisi kesusahan untuk mendapatkan hadiah, dg berlumuran oli dan tanah, para Demang duduk santai dan terbahak-bahak di kursi sambil menyaksikan. Ya, itulah penderitaan bangsa ini kala itu.
Saat ini, panjat pinang pun menjadi kesenangan, kegemaran, bahkan ritual yg tak boleh ditinggalkan saat ulang tahun RI. Semoga, tak hanya menjadi rutinitas, tetapi selalu mengingatkan kepada kita, betapa panjangnya bangsa ini memikul beban peradaban.
Di kala bangsa ini sengsara, tak sepenuhnya kesedihan itu ditinggalkan. Seonggok kesenangan pun disisakan, dengan permainan Panjat Pinang. Panjat pinang menjadi simbol kekuasaan penjajah, karena dlm posisi kesusahan untuk mendapatkan hadiah, dg berlumuran oli dan tanah, para Demang duduk santai dan terbahak-bahak di kursi sambil menyaksikan. Ya, itulah penderitaan bangsa ini kala itu.
Saat ini, panjat pinang pun menjadi kesenangan, kegemaran, bahkan ritual yg tak boleh ditinggalkan saat ulang tahun RI. Semoga, tak hanya menjadi rutinitas, tetapi selalu mengingatkan kepada kita, betapa panjangnya bangsa ini memikul beban peradaban.
Tauhid dan Kemerdekaan
Ketika SD seringkali muallim (Ustadz untk konteks skrang) mengajarkan tentang tauhid dan isinya tak jauh dari keimanan kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, Hari Akhir, dan Qhda n Qadar. Lalu apa yang menjadikan Tauhid cocok untuk disandingkan dengan tema kemerdekaan kita.
Ada banyak tokoh yg melihat tauhid sebagai pembebasan, karena hanya Tuhan yang Esa-lah diakui secara mutlak. Pengakuan terhadap yg Esa ini tak hanya tersimbol di ucapan saja, tetapi terpatri dalam qalbu dan terejawantah dlm perbuatan, kira2 seperti itu Ibnu Taimiyyah menekankan aspek ini. Hal ini berarti Tauhid mampu meliputi semua tindakan manusia dan (dalam beberapa doktrin Islam disebutkan) menjadi salah satu unsur yang memasukkan seseorang ke surga tanpa hisab (sebuah hadits yang menyatakan "barang siapa dalam akhir ucapannya menyebut 'La Ilaha Illaha dakhala al-Jannah'."
Pengakuan terhadap yang Esa tersebutlah menjadi penting untuk dicatat, karena darinya pula hakikat kemanusiaan akan terwujud. Tauhid mengandung satu kekuatan pembebas dari setiap belenggu dan hegemoni, termasuk materi atau keyakinan . Mengutip Ali Syariati, musuh yg paling sulit dikalahkan oleh manusia adalah dalam dirinya sendiri, Ego.
Laiknya sebuah pertempuran, musuh yang ada di depan mata akan sangat mudah dilawan. Namun berbeda dengan musuh di dalam selimut, abstrak, laten, tapi mematikan. Yang disebutkan kedua ini lebih memiliki kekuatan destruktif daripada yg pertama, meski tak terlihat oleh mata. Kekuatan untuk memahami substansilah yang mampu melawannya, 'bak' dunia sihir yg mampu dilawan dengan sihir pula.
***
Saat ini, ancaman krisis ekonomi begitu sering dialami, terutama pasca reformasi. Namun bangsa ini telah cukup mampu menghadapinya, karena telah berabad-abad bahkan ribuan tahun masyarakat Nusantara terbiasa hidup susah. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan kehidupan yang minim, tak cukup makanan, busung lapar yang melanda, atau hanya tidur di kolong jembatan seperti para TKI yang - entah bisa merayakan HUT RI 64 atau tidak - ada di Saudi. Tapi kita mampu berhadapan dengan momok kemiskinan itu dan terbukti.
Hanya saja, untuk mengatasi musuh yang lebih laten bangsa ini cukup sempoyongan. Budaya materialiastis yang tumbuh dan meninggalkan budaya lama pun semakin mencuat ke permukaan. Seolah tak ada yang kita pikirkan kecuali penampilan diri di depan orang, kondisi ekonomi yang mapan, pakaian necis yang menaikkan status, atau pun 'pakaian keagamaan' yang menaikan drajat ketakwaan seseorang. Kita lalai dalam hal ini. Penilaian selalu ditinjau dari materi, karena hanya materilah yang nampak di mata kita dan menopang status sosial seseorang. Tapi sejauh mana Tuhan akan mampu melihat status kita yang tinggi, masyarakat miskin yang tidak butuh dengan parfum wangi dan mahal, serta para gelandangan yang tidak cukup mementingkan sorban di kepala, menjadikan semua perangkat duniawi di tubuh kita ini cukup berarti.
Kebutuhan dan ketergantungan kita terhadap materi menjadikan kita lupa dengan hakikat. Syariat yang formalistis menjadikan kita tak mampu menggapai status Haji hanya karena tak punya uang. Sekolah yang hanya berstatus swasta menjadikan kita gagal menempuh pendidikan yang lebih baik. Atau hanya karena bukan keturunan konglomerat membuat sebagian besar anak bangsa tak mampu duduk setaraf dengan mereka yang punya segalanya.
***
Terkadang, klaim manusia terhadap keyakinannya justru yang menjadikan dirinya ternoda untuk mengakui bahwa hanya Tuhan lah yang maha segalanya. Dalam pada itu, cukup alasan untuk mengatakan bahwa ego terhadap Sebuah Kebenaran malah menjadikan kita terpuruk dalam kehormatan diri sendiri. Kita lupa bahwa ada yang selalu Tinggi dan Paling Tinggi di antara yang tinggi. Dia-lah Tuhan.
Keberhasilan umat Islam untuk menghancurkan berhala dan patung ternyata tak cukup membuat setan puas dengan kerjanya. Patung-patung itu disulap menjadi senjata yang paling mematikan. Tak terlihat, lembut, mempesona, dan tak terduga bisa merasuki siapa dan dalam bentuk apa saja.
Kecerdasan setan untuk merasuki hati inilah mengancam kebebasan dan kemerdekaan seseorang, karena unsur 'kebaikan' dalam diri seseorang akan mudah dikalahkan. Unsur kebaikan, meskipun menang, akan dipoles sedemikian rupa hingga tak mampu berbuat apa-apa kecuali suatu tingkat keterpurukan terpalung dalam keegoan diri sendiri dan mengenyampingkan-Nya. Dalam hal ini, tak hanya kebaikan yang hilang dari esensinya, tetapi hakikat manusia yang bebas pun tak akan tercapai.
***
Setidaknya, dengan tauhid lah seseorang akan merdeka, baik secara materi atau substansi. Tauhid memerdekaan seseorang dari kungkungan penjajahan, tauhid pula membebaskan diri seseorang dari kungkungan diri sendiri. Tauhid menjadi awal seseorang untuk berkreasi, berbuat, dan memerdekakan diri. Tak ada yang paling urgent dari perjuangan Rasulullah selama puluhan tahun kecuali membebaskan manusia dari belenggu diri sendiri yang tak mampu dihindari masyarakat Arab. Dan tak ada pengakuan besar terhadap peradaban modern, kecuali sebuah pembebasan dari belenggu yang mengawalinya. Itulah sebuah kemerdekaan.
Obrolan ini memancing munculnya pertanyaan terakhir, yaitu bagaimana mengalahkan ego dan materi yang selalu mengungkung kemerdekaan...? ...Cinta... Demikian menurut Syariati. Hanya cinta yang mampu mendorong Nietzsche untuk rela memberikan nyawanya hanya karena seekor kuda yang dipukuli tuannya. Hanya cinta yang mampu membuat seorang ibu rela menderita mengurusi anaknya. Dan hanya karena cinta para pahlawan kemerdekaan mampu menaggalkan kesenangan duaniawinya.
Nampak tak cukup rasional. Memang betul, karena cinta tak berada dalam rasionalitas. Cinta menyatu dalam satu perbuatan yang tanpa henti untuk memberikan sesuatu kepada selainnya. Tanpa pamrih dan harap kembali. Namun iktikadnya untuk memberi inilah memberikan kepastian baginya bahwa tidak ada yang menjadi miliknya, termasuk dirinya sendiri. Cinta selalu meyakinkan bahwa tak ada yang bisa dinikmati dan dikuasai secara penuh. Dan cinta inilah yang mendorong pejuang untuk mengorbankan diri dalam peperangan suci (tapi bukan bom bunuh diri). Dengan cinta juga seseorang mampu memahami perbedaan yang ada dan menerima khaluk-Nya apa adanya.
Ada banyak tokoh yg melihat tauhid sebagai pembebasan, karena hanya Tuhan yang Esa-lah diakui secara mutlak. Pengakuan terhadap yg Esa ini tak hanya tersimbol di ucapan saja, tetapi terpatri dalam qalbu dan terejawantah dlm perbuatan, kira2 seperti itu Ibnu Taimiyyah menekankan aspek ini. Hal ini berarti Tauhid mampu meliputi semua tindakan manusia dan (dalam beberapa doktrin Islam disebutkan) menjadi salah satu unsur yang memasukkan seseorang ke surga tanpa hisab (sebuah hadits yang menyatakan "barang siapa dalam akhir ucapannya menyebut 'La Ilaha Illaha dakhala al-Jannah'."
Pengakuan terhadap yang Esa tersebutlah menjadi penting untuk dicatat, karena darinya pula hakikat kemanusiaan akan terwujud. Tauhid mengandung satu kekuatan pembebas dari setiap belenggu dan hegemoni, termasuk materi atau keyakinan . Mengutip Ali Syariati, musuh yg paling sulit dikalahkan oleh manusia adalah dalam dirinya sendiri, Ego.
Laiknya sebuah pertempuran, musuh yang ada di depan mata akan sangat mudah dilawan. Namun berbeda dengan musuh di dalam selimut, abstrak, laten, tapi mematikan. Yang disebutkan kedua ini lebih memiliki kekuatan destruktif daripada yg pertama, meski tak terlihat oleh mata. Kekuatan untuk memahami substansilah yang mampu melawannya, 'bak' dunia sihir yg mampu dilawan dengan sihir pula.
***
Saat ini, ancaman krisis ekonomi begitu sering dialami, terutama pasca reformasi. Namun bangsa ini telah cukup mampu menghadapinya, karena telah berabad-abad bahkan ribuan tahun masyarakat Nusantara terbiasa hidup susah. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan kehidupan yang minim, tak cukup makanan, busung lapar yang melanda, atau hanya tidur di kolong jembatan seperti para TKI yang - entah bisa merayakan HUT RI 64 atau tidak - ada di Saudi. Tapi kita mampu berhadapan dengan momok kemiskinan itu dan terbukti.
Hanya saja, untuk mengatasi musuh yang lebih laten bangsa ini cukup sempoyongan. Budaya materialiastis yang tumbuh dan meninggalkan budaya lama pun semakin mencuat ke permukaan. Seolah tak ada yang kita pikirkan kecuali penampilan diri di depan orang, kondisi ekonomi yang mapan, pakaian necis yang menaikkan status, atau pun 'pakaian keagamaan' yang menaikan drajat ketakwaan seseorang. Kita lalai dalam hal ini. Penilaian selalu ditinjau dari materi, karena hanya materilah yang nampak di mata kita dan menopang status sosial seseorang. Tapi sejauh mana Tuhan akan mampu melihat status kita yang tinggi, masyarakat miskin yang tidak butuh dengan parfum wangi dan mahal, serta para gelandangan yang tidak cukup mementingkan sorban di kepala, menjadikan semua perangkat duniawi di tubuh kita ini cukup berarti.
Kebutuhan dan ketergantungan kita terhadap materi menjadikan kita lupa dengan hakikat. Syariat yang formalistis menjadikan kita tak mampu menggapai status Haji hanya karena tak punya uang. Sekolah yang hanya berstatus swasta menjadikan kita gagal menempuh pendidikan yang lebih baik. Atau hanya karena bukan keturunan konglomerat membuat sebagian besar anak bangsa tak mampu duduk setaraf dengan mereka yang punya segalanya.
***
Terkadang, klaim manusia terhadap keyakinannya justru yang menjadikan dirinya ternoda untuk mengakui bahwa hanya Tuhan lah yang maha segalanya. Dalam pada itu, cukup alasan untuk mengatakan bahwa ego terhadap Sebuah Kebenaran malah menjadikan kita terpuruk dalam kehormatan diri sendiri. Kita lupa bahwa ada yang selalu Tinggi dan Paling Tinggi di antara yang tinggi. Dia-lah Tuhan.
Keberhasilan umat Islam untuk menghancurkan berhala dan patung ternyata tak cukup membuat setan puas dengan kerjanya. Patung-patung itu disulap menjadi senjata yang paling mematikan. Tak terlihat, lembut, mempesona, dan tak terduga bisa merasuki siapa dan dalam bentuk apa saja.
Kecerdasan setan untuk merasuki hati inilah mengancam kebebasan dan kemerdekaan seseorang, karena unsur 'kebaikan' dalam diri seseorang akan mudah dikalahkan. Unsur kebaikan, meskipun menang, akan dipoles sedemikian rupa hingga tak mampu berbuat apa-apa kecuali suatu tingkat keterpurukan terpalung dalam keegoan diri sendiri dan mengenyampingkan-Nya. Dalam hal ini, tak hanya kebaikan yang hilang dari esensinya, tetapi hakikat manusia yang bebas pun tak akan tercapai.
***
Setidaknya, dengan tauhid lah seseorang akan merdeka, baik secara materi atau substansi. Tauhid memerdekaan seseorang dari kungkungan penjajahan, tauhid pula membebaskan diri seseorang dari kungkungan diri sendiri. Tauhid menjadi awal seseorang untuk berkreasi, berbuat, dan memerdekakan diri. Tak ada yang paling urgent dari perjuangan Rasulullah selama puluhan tahun kecuali membebaskan manusia dari belenggu diri sendiri yang tak mampu dihindari masyarakat Arab. Dan tak ada pengakuan besar terhadap peradaban modern, kecuali sebuah pembebasan dari belenggu yang mengawalinya. Itulah sebuah kemerdekaan.
Obrolan ini memancing munculnya pertanyaan terakhir, yaitu bagaimana mengalahkan ego dan materi yang selalu mengungkung kemerdekaan...? ...Cinta... Demikian menurut Syariati. Hanya cinta yang mampu mendorong Nietzsche untuk rela memberikan nyawanya hanya karena seekor kuda yang dipukuli tuannya. Hanya cinta yang mampu membuat seorang ibu rela menderita mengurusi anaknya. Dan hanya karena cinta para pahlawan kemerdekaan mampu menaggalkan kesenangan duaniawinya.
Nampak tak cukup rasional. Memang betul, karena cinta tak berada dalam rasionalitas. Cinta menyatu dalam satu perbuatan yang tanpa henti untuk memberikan sesuatu kepada selainnya. Tanpa pamrih dan harap kembali. Namun iktikadnya untuk memberi inilah memberikan kepastian baginya bahwa tidak ada yang menjadi miliknya, termasuk dirinya sendiri. Cinta selalu meyakinkan bahwa tak ada yang bisa dinikmati dan dikuasai secara penuh. Dan cinta inilah yang mendorong pejuang untuk mengorbankan diri dalam peperangan suci (tapi bukan bom bunuh diri). Dengan cinta juga seseorang mampu memahami perbedaan yang ada dan menerima khaluk-Nya apa adanya.
Anak Indonesia
Teringat akan masa kecil ketika bermain petak-umpet (pga: samsimbon), berlari ke sana ke mari, waspada, n berfikir keras bagaimana sampai ke pusat penjagaan terkuat. Pun demikian dengan patok lilin, menggunakan ketangkasan utk memukul stick yg terbuat dari kayu. Kelereng juga sama, meski dengan debu dan tanah yang menyertai, tetapi kesenangan itu sulit ditandingi dg permainan zaman skrang. Dan ada banyak permainan yg sering dilakukan.
Namun sayang, semua itu hampir hilang dan tak ditemui lagi. Ke manakah permainan yang sejak kecil sangat kugandrungi itu? Oh... Ternyata ia mulai tak sesuai dengan kebutuhan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak yang hidup di tengah arus teknologi dan informasi ternyata lebih memilih permainan modern. PS, misalnya, menjadi salah satu pilihan ketika 'Dingdong' dan 'Sega' tak ditemui. PUn demikian dengan yang lain.
Apakah perubahan ini salah? Tentu tidak. "Itukan karena kau aja yang hidupnya di masa klasik!" Demikian kiranya seorang teman sering menghardik ketika kita mempersoalkan masalah ini. Itulah kenyataan yang tak dapat dihindarkan, proses modernisasi dan globalisasi telah membawa kita bergabung dengan masyarakat dunia yang lebih luas, berikut permainan dan perangkatnya, meskipun secara lebih jujur harus diakui kita hanya terbatas pada pengguna, konsumtor, dan penghamba kepada produk-produk tersebut.
****
Beberapa analisa psikologis menyebutkan bahwa kecenderungan anak-anak bermain PS ternyata memiliki kepekaan sosial lebih kecil dibandingkan anak-anak yang lain. Mengapa demikian, sifat individualisasi yang ditanam dalam permainan ini cukup kuat. Pertama, mereka selalu berada dalam lingkungannya sendiri, terlepas dari masyarakat(anak-anak)nya. Dan kedua, emosi mereka selalu distimulus untuk mengalahkan lawannya.
Dalam pengertian tertentu individualis cukup bermanfaat, setidaknya mendorong orang untuk bereksistensi dan kompetesi. Toh, dari sini juga muncul peradaban modern. Namun, dalam tataran yang sangat rapuh, individualis justru melepaskannya dari jiwa sosial yang selama ini dikenal kuat di masyarakat Indonesia. Dan cukup bisa dibayangkan jika masyarakat Indonesia dua puluh, tiga puluh, bahkan setengah abad ke depan disesaki oleh mereka yang bersifat seperti ini.
Permainan modern yang ternyata diterima secara instant saja seperti ini juga menanamkan rasa manja. Tidak ada lagi usaha untuk mendapatkan satu karya yang sempurna, seperti ketika harus membuat mobil2an dari bambu atau senapan panjang dari (pelepah) daun pisang. Implikasinya tentu akan semakin menguatkan masyarakat kita yang semakin tergantung dengan produk-produk instant dan cenderung konsumtif. Dengan tingkat kreatifitas yang tinggi saja sulit untuk menciptakan sesuatu, apalagi dengan proses yang hanya 'nrimo'.
Galtung dalam karangannya menyebutkan bahwa salah satu faktor yang melanggengkan penjajahan dan kekuasaan adalah kemajuan teknologi satu negara atas negara lain, dan negara yang lebih maju membuat negara "ketiga/feri-feri" selalu tergantung, baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ataupun budaya. Lalu, sampai kapan Indonesia bisa berdikari jik apara penerus bangsanya dididik dari kecil untuk tergantung dengan produk instant (terutama dalam permainan) yang selalu membuat kreatifitas mereka mati?
Dalam pada itu, selain jarang berkomunikasi dengan lingkungannya, kebiasaan anak-anak yang bermain di rumah pun membuat mereka sangat jarang menggerakkan badan. Tak menjadi kekhawatiran jika olah raga di sekolah mampu memfasilitasi kebutuhan olah tubuh mereka. Dalam beberapa hal ternyata banyak anak-anak yang asyik dengan permainan yang hanya mengandalkan jari tangan saja. Hal ini tentu berakibat buruk kepada kesehatan dan kelangsungan tubuhnya di hari yang akan datang.
Untuk itu, tak banyak yang dapat dilakukan dalam kehidupan yang semakin maju ini, kecuali melakukan sesuatu yang sepele tatapi memiliki efek besar di masa depan, mulai dari yang paling kecil sampai hal-hal besar yang ada di sekeliling kita. Tentu kita tak pernah setuju jika anak-anak Indonesia menjadi 'autis' (mf jika penggunaan kt ini tidak cukup sesuai) semua dan sibuk asyik dengan permainnya sendiri, karena autis dengan permainan seperti ini tidak akan memunculkan pemikir besar seperti Enstein atau Thomas A. Edison, seperti yang disebutkan di film India. Pun juga kita tak pernah bermimpi bangsa ini terus-menerus menjadi konsumtor terhadap hasil karya orang lain, meskipun kecenderungan itu semakin kuat terasa. Dan juga tak pernah kita harapkan bangsa ini menjadi bangsa yang tak berwibawa hanya karena anak-anak dan penerusnya tak cukup kreatif untuk menjadi besar. Begitu pula tak pernah terlintas dalam benak kita bangsa ini ke depan menjadi bangsa yang loyo hanya karena anak-anak mereka selalu duduk di depan monitor TV dengan memegang stick PS. Dan, terakhir untuk saat ini, tak pernah kita bermimpi Indonesia mendapat gelar juara dunia dalam Sepak Bola di dunia maya, hanya karena anak-anak dan penerus bangsa ini terus mengejar permainan sepak bola terbaru.
Hiduplah Indonesia, Hiduplah Anak-anak Indonesia...
Sybbanul Yaum, Rijalul Ghadd...
Namun sayang, semua itu hampir hilang dan tak ditemui lagi. Ke manakah permainan yang sejak kecil sangat kugandrungi itu? Oh... Ternyata ia mulai tak sesuai dengan kebutuhan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak yang hidup di tengah arus teknologi dan informasi ternyata lebih memilih permainan modern. PS, misalnya, menjadi salah satu pilihan ketika 'Dingdong' dan 'Sega' tak ditemui. PUn demikian dengan yang lain.
Apakah perubahan ini salah? Tentu tidak. "Itukan karena kau aja yang hidupnya di masa klasik!" Demikian kiranya seorang teman sering menghardik ketika kita mempersoalkan masalah ini. Itulah kenyataan yang tak dapat dihindarkan, proses modernisasi dan globalisasi telah membawa kita bergabung dengan masyarakat dunia yang lebih luas, berikut permainan dan perangkatnya, meskipun secara lebih jujur harus diakui kita hanya terbatas pada pengguna, konsumtor, dan penghamba kepada produk-produk tersebut.
****
Beberapa analisa psikologis menyebutkan bahwa kecenderungan anak-anak bermain PS ternyata memiliki kepekaan sosial lebih kecil dibandingkan anak-anak yang lain. Mengapa demikian, sifat individualisasi yang ditanam dalam permainan ini cukup kuat. Pertama, mereka selalu berada dalam lingkungannya sendiri, terlepas dari masyarakat(anak-anak)nya. Dan kedua, emosi mereka selalu distimulus untuk mengalahkan lawannya.
Dalam pengertian tertentu individualis cukup bermanfaat, setidaknya mendorong orang untuk bereksistensi dan kompetesi. Toh, dari sini juga muncul peradaban modern. Namun, dalam tataran yang sangat rapuh, individualis justru melepaskannya dari jiwa sosial yang selama ini dikenal kuat di masyarakat Indonesia. Dan cukup bisa dibayangkan jika masyarakat Indonesia dua puluh, tiga puluh, bahkan setengah abad ke depan disesaki oleh mereka yang bersifat seperti ini.
Permainan modern yang ternyata diterima secara instant saja seperti ini juga menanamkan rasa manja. Tidak ada lagi usaha untuk mendapatkan satu karya yang sempurna, seperti ketika harus membuat mobil2an dari bambu atau senapan panjang dari (pelepah) daun pisang. Implikasinya tentu akan semakin menguatkan masyarakat kita yang semakin tergantung dengan produk-produk instant dan cenderung konsumtif. Dengan tingkat kreatifitas yang tinggi saja sulit untuk menciptakan sesuatu, apalagi dengan proses yang hanya 'nrimo'.
Galtung dalam karangannya menyebutkan bahwa salah satu faktor yang melanggengkan penjajahan dan kekuasaan adalah kemajuan teknologi satu negara atas negara lain, dan negara yang lebih maju membuat negara "ketiga/feri-feri" selalu tergantung, baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ataupun budaya. Lalu, sampai kapan Indonesia bisa berdikari jik apara penerus bangsanya dididik dari kecil untuk tergantung dengan produk instant (terutama dalam permainan) yang selalu membuat kreatifitas mereka mati?
Dalam pada itu, selain jarang berkomunikasi dengan lingkungannya, kebiasaan anak-anak yang bermain di rumah pun membuat mereka sangat jarang menggerakkan badan. Tak menjadi kekhawatiran jika olah raga di sekolah mampu memfasilitasi kebutuhan olah tubuh mereka. Dalam beberapa hal ternyata banyak anak-anak yang asyik dengan permainan yang hanya mengandalkan jari tangan saja. Hal ini tentu berakibat buruk kepada kesehatan dan kelangsungan tubuhnya di hari yang akan datang.
Untuk itu, tak banyak yang dapat dilakukan dalam kehidupan yang semakin maju ini, kecuali melakukan sesuatu yang sepele tatapi memiliki efek besar di masa depan, mulai dari yang paling kecil sampai hal-hal besar yang ada di sekeliling kita. Tentu kita tak pernah setuju jika anak-anak Indonesia menjadi 'autis' (mf jika penggunaan kt ini tidak cukup sesuai) semua dan sibuk asyik dengan permainnya sendiri, karena autis dengan permainan seperti ini tidak akan memunculkan pemikir besar seperti Enstein atau Thomas A. Edison, seperti yang disebutkan di film India. Pun juga kita tak pernah bermimpi bangsa ini terus-menerus menjadi konsumtor terhadap hasil karya orang lain, meskipun kecenderungan itu semakin kuat terasa. Dan juga tak pernah kita harapkan bangsa ini menjadi bangsa yang tak berwibawa hanya karena anak-anak dan penerusnya tak cukup kreatif untuk menjadi besar. Begitu pula tak pernah terlintas dalam benak kita bangsa ini ke depan menjadi bangsa yang loyo hanya karena anak-anak mereka selalu duduk di depan monitor TV dengan memegang stick PS. Dan, terakhir untuk saat ini, tak pernah kita bermimpi Indonesia mendapat gelar juara dunia dalam Sepak Bola di dunia maya, hanya karena anak-anak dan penerus bangsa ini terus mengejar permainan sepak bola terbaru.
Hiduplah Indonesia, Hiduplah Anak-anak Indonesia...
Sybbanul Yaum, Rijalul Ghadd...
Al-Qur'an yang Diam
Salah satu aspek penting yang menjadikan Ramadhan menjadi bulan kramat bagi umat Islam adalah di dalamnya diturunkan al-Qur’an. Diketahui al-Qur’an sendiri menjadi pegangan dan salah satu dari dua hal yang ditinggalkan Rasul. Namun, al-Qur’an sendiri hanyalah teks yang menyimpan segudang makna. Ia tak dapat berbicara seperti halnya para ustadz di kampung. Ia juga tak dapat berteriak seperti jeritan seorang muazzin di masjid. Kebisuan al-Qur’an pula setidaknya menjadikannya sangat fenomenal dan kontroversial dalam sejarah umat Islam.
Karena sebagai sumber dasar dalam Islam, al-Qur’an sendiri dinilai sangat suci. Dalam rentang sejarah bahkan tak sedikit umat Islam bertengkar dalam menentukan statusnya. Bahkan, cukup kuat dalam ingatan kita, Imam Ahmad bin Hanbal merasakan siksaan yang sangat tragis dari al-Ma’mun ketika harus mengakui bahwa al-Qur’an bukan makhluk. Pun pula dengan tindakan Mirza Ghulam Ahmad dianggap sebagai pelecehan terhadap al-Qur’an karena dianggap berusaha membuat Kitab baru setelah al-Qur’an sebagai kitab terakhir. Demikian adanya, seolah umat Islam menjawab “janji Allah untuk menjaga al-Qur’an sampai akhir zaman”.
Kesucian al-Qur’an tak hanya sampai di situ, dalam konteks sejarah pula diketahui bahwa al-Qur’an, selain Sunnah Rasul, menjadi penyebab perbedaan pendapat. Terutama ketika Islam mulai memasuki zaman modern dan telah ditinggal oleh Rasul selama ratusan tahun. Dahulu, ketika terjadi masalah para sahabat langsung datang kepada Rasul, sehingga tak ada pertentangan. Namun sekarang, para ulama kembali kepada metodologi yang tersedia – atau dalam beberapa kasus menciptakan metode tersendiri dengan perangkat yang lebih modern – menafsirkan sendiri apa yang disampaikan Tuhan melalui kalam-Nya ini. Dari situ pula perbedaan pendapat tak bisa dihindarkan, apalagi dalam Islam tak dikenal istilah kependetaan yang memastikan maksud Tuhan tersebut.
Dalam masa kontemporer, setidaknya dua aliran besar yang berusaha melihat al-Qur’an. Pertama, kalangan tekstualis yang berusaha melihat al-Qur’an sebagai teks yang kaku dan harus diterapkan apa adanya. Konsekuensinya, Islam harus dilihat dalam kerangka al-Qur’an yang – dalam pandangan banyak tokoh kontemporer – sangat terikat dengan konteks sosio-kultural masyarakat tradisional Arab. Selain itu, ada pula kelompok yang tetap memegang tradisionalisme penafsiran seperti yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu. Dengan tetap menggunakan metode dan pernagkat yang tersedia, al-Qur’an berusaha ditafsirkan dengan kaca mata kontemporer, sehingga penafsiran al-Qur’an sendiri harus terikat dengan doktrin klasik, sembari mengikuti perkembangan zaman sekarang.
Kedua bentuk penafsiran di atas juga tak menjadi pilihan final para pemikir Islam saat ini, karena pada kenyataannya banyak ulama yang juga mencoba membuat satu kerangka baru dalam menafsirkan al-Qur’an terutama menggunakan perangkat ilmu pengetahuan modern. Dan tentu dalam hal ini penggunakan akal tak dapat ditinggalkan dan pengakuan bahwa al-Qur’an selalu relevan dengan konteks masyarakat menjadi tujuan. Bila diamati, meski tak semuanya dalam satu kerangka ini, para pemikir tersebut berusaha merelevansikan pesan al-Qur’an yang universal dengan konteks kekinian. Dalam pada itu, Islam diyakini sebagai agama yang datang kepada manusia hanya untuk sebuah keadilan dan kemaslahan, sehingga aturan-aturan al-Qur’n yang dianggap sebagai penghalang upaya perwujudan cita-cita tersebut harus ditinjau kembali. Demikian kiranya yang dilakukan oleh Muhammad Abduh,misalnya, ketika melihat poligami dalam Islam. Pun demikian kiranya ketika pemikir muslim kontemporer memaknai ayat-ayat jihad dalam al-Qur’an.
Dalam hal ini, harus diakui bahwa semua penafsiran yang diberikan oleh ulamai di atas adalah dalam rangka menjadikan Islam tetap berada dalam kejayaannya dan kesempurnaannya untuk menjawab tantangan zaman. Perwujudan dari perasaan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin diutarakan dengan sikap dan pendapat yang berbeda-beda. Maka itu, dalam konteks masyarakat modern saat ini, upaya penafsiran, selagi dengan niat yang suci, selalu berada dalam hubungan dialektis. Yaitu antara teks al-Qur’an yang suci dan limited dengan tindakan dan perubahan sosial yang unlimited. Kontekstualisasi inilah yang menjadi penting untuk dicatat, karena Islam sendiri berada di tengah-tengah masyarakat yang bebas memberikan pendapatnya.
Apalagi, dalam ruang lingkup Indonesia modern seperti ini, di mana Islam menjadi salah satu inspirator dalam pembangunan bangsa, hukum Islam misalnya, maka sudah sepantasnyalah hukum Islam itu seiring dengan keadilan dan kehendak masyarakat. Masyarakatlah yang akan merasakan dan memilih apakah Islam cukup adil bagi kehidupan mereka atau sebaliknya. Maka itu, ketika hubungan dialektis antara teks yang suci dan masyarakat yang selalu berubah tersebut akan selalu menimbulkan antitesa baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masing-masing.
Karena sebagai sumber dasar dalam Islam, al-Qur’an sendiri dinilai sangat suci. Dalam rentang sejarah bahkan tak sedikit umat Islam bertengkar dalam menentukan statusnya. Bahkan, cukup kuat dalam ingatan kita, Imam Ahmad bin Hanbal merasakan siksaan yang sangat tragis dari al-Ma’mun ketika harus mengakui bahwa al-Qur’an bukan makhluk. Pun pula dengan tindakan Mirza Ghulam Ahmad dianggap sebagai pelecehan terhadap al-Qur’an karena dianggap berusaha membuat Kitab baru setelah al-Qur’an sebagai kitab terakhir. Demikian adanya, seolah umat Islam menjawab “janji Allah untuk menjaga al-Qur’an sampai akhir zaman”.
Kesucian al-Qur’an tak hanya sampai di situ, dalam konteks sejarah pula diketahui bahwa al-Qur’an, selain Sunnah Rasul, menjadi penyebab perbedaan pendapat. Terutama ketika Islam mulai memasuki zaman modern dan telah ditinggal oleh Rasul selama ratusan tahun. Dahulu, ketika terjadi masalah para sahabat langsung datang kepada Rasul, sehingga tak ada pertentangan. Namun sekarang, para ulama kembali kepada metodologi yang tersedia – atau dalam beberapa kasus menciptakan metode tersendiri dengan perangkat yang lebih modern – menafsirkan sendiri apa yang disampaikan Tuhan melalui kalam-Nya ini. Dari situ pula perbedaan pendapat tak bisa dihindarkan, apalagi dalam Islam tak dikenal istilah kependetaan yang memastikan maksud Tuhan tersebut.
Dalam masa kontemporer, setidaknya dua aliran besar yang berusaha melihat al-Qur’an. Pertama, kalangan tekstualis yang berusaha melihat al-Qur’an sebagai teks yang kaku dan harus diterapkan apa adanya. Konsekuensinya, Islam harus dilihat dalam kerangka al-Qur’an yang – dalam pandangan banyak tokoh kontemporer – sangat terikat dengan konteks sosio-kultural masyarakat tradisional Arab. Selain itu, ada pula kelompok yang tetap memegang tradisionalisme penafsiran seperti yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu. Dengan tetap menggunakan metode dan pernagkat yang tersedia, al-Qur’an berusaha ditafsirkan dengan kaca mata kontemporer, sehingga penafsiran al-Qur’an sendiri harus terikat dengan doktrin klasik, sembari mengikuti perkembangan zaman sekarang.
Kedua bentuk penafsiran di atas juga tak menjadi pilihan final para pemikir Islam saat ini, karena pada kenyataannya banyak ulama yang juga mencoba membuat satu kerangka baru dalam menafsirkan al-Qur’an terutama menggunakan perangkat ilmu pengetahuan modern. Dan tentu dalam hal ini penggunakan akal tak dapat ditinggalkan dan pengakuan bahwa al-Qur’an selalu relevan dengan konteks masyarakat menjadi tujuan. Bila diamati, meski tak semuanya dalam satu kerangka ini, para pemikir tersebut berusaha merelevansikan pesan al-Qur’an yang universal dengan konteks kekinian. Dalam pada itu, Islam diyakini sebagai agama yang datang kepada manusia hanya untuk sebuah keadilan dan kemaslahan, sehingga aturan-aturan al-Qur’n yang dianggap sebagai penghalang upaya perwujudan cita-cita tersebut harus ditinjau kembali. Demikian kiranya yang dilakukan oleh Muhammad Abduh,misalnya, ketika melihat poligami dalam Islam. Pun demikian kiranya ketika pemikir muslim kontemporer memaknai ayat-ayat jihad dalam al-Qur’an.
Dalam hal ini, harus diakui bahwa semua penafsiran yang diberikan oleh ulamai di atas adalah dalam rangka menjadikan Islam tetap berada dalam kejayaannya dan kesempurnaannya untuk menjawab tantangan zaman. Perwujudan dari perasaan bahwa Islam sebagai agama rahmatan lil alamin diutarakan dengan sikap dan pendapat yang berbeda-beda. Maka itu, dalam konteks masyarakat modern saat ini, upaya penafsiran, selagi dengan niat yang suci, selalu berada dalam hubungan dialektis. Yaitu antara teks al-Qur’an yang suci dan limited dengan tindakan dan perubahan sosial yang unlimited. Kontekstualisasi inilah yang menjadi penting untuk dicatat, karena Islam sendiri berada di tengah-tengah masyarakat yang bebas memberikan pendapatnya.
Apalagi, dalam ruang lingkup Indonesia modern seperti ini, di mana Islam menjadi salah satu inspirator dalam pembangunan bangsa, hukum Islam misalnya, maka sudah sepantasnyalah hukum Islam itu seiring dengan keadilan dan kehendak masyarakat. Masyarakatlah yang akan merasakan dan memilih apakah Islam cukup adil bagi kehidupan mereka atau sebaliknya. Maka itu, ketika hubungan dialektis antara teks yang suci dan masyarakat yang selalu berubah tersebut akan selalu menimbulkan antitesa baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masing-masing.
Malaysia dan Kekuasaan
Kembali Indonesia ditantang oleh negeri J(T)iran. Pasca kemerdekaan, Indonesia pernah berseteru dengan Malaysia, meskipun sikap keras Soekarno tetap menjadikan Indonesia berwibawa. Pun demikian masa Soeharto (bukan pula bermaksud membela secara penuh), tak sedikitpun terdengar kabar Indonesia diusik oleh Malaysia. Namun saat ini keadaan begitu drastis berubah. Indonesia seolah “diacak-acak” oleh Malaysia, dengan mengambil kekayaan Indonesia, baik secara materi atau immateri.
Hemat saya, keberanian Malaysia tak lain didukung oleh kepercayaan diri mereka terhadap kondisi negaranya saat ini. Johan Galtung pernah memberikan pola hubungan antara negara dengan menyebutkan bahwa penguasaan oleh satu bangsa terhadap bangsa lain akan terjadi ketika satu bangsa tertentu memiliki sumber daya, baik itu militer, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya, lebih daripada bangsa yang dikuasai. Secara konkret memang Indonesia tak pernah dikuasai atau dijajah oleh Malaysia. Namun, bila diamati lebih mendalam, Indonesia sangat tergantung secara ekonomi dengan Malaysia, terutama ketika Indonesia sangat memanjakan para TKI dan menganggapnya sebagai devisa terbesar negara.
Memang tak dapat disalahkan para pahlawan devisa ini, karena perubahan masyarakat Indonesia menuju modernsasi dan materialistik juga akibiat proses pembangunan ekonomi yang diperankan negara ketika Orde Baru. Pun demikian, tak bisa disalahkan pula ketika tuntutan hidup mendorong mereka untuk meraup rizki di negeri orang hanya karena negara tak mampu memberikan kepastian pekerjaan kepada mereka. Dalam hal ini, kondisi ekonomi Indonesia yang kian memprihatinkan menjadikan Indonesia telah kalah dengan negeri jiran dan memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia meminta sesuap nasi.
Selain itu, sejak runtuhnya rezim Orde Baru, Indonesia semakin mengakui kemajuan ilmu pengetahuan Malaysia. Jika dahulu Anwar Ibrahim sempat sekolah di Indonesia, saat ini justru sebaliknya, orang Indonesia dengan bangga menyebutkan bahwa ia besekolah di Malaysia. Tentu perubahan tersebut juga semakin memojokkan posisi Indonesia di mata Malaysia secara lebih khusus, dan di mata dunia secara lebih umum.
Maka itu, ketergantungan ekonomi Indonesia dengan ditandari maraknya para TKI yang datang ke negeri Jiran, ataupun kemajuan Malaysia dalam ilmu pengetahuan, menjadikan Indonesia tergantung dan tersubordinat dengan anakbuahnya sendiri. Ketika anak buah telah mampu mengalahkan tuannya, maka hukum alam pun terjadi, anak buah lah saat ini akan menguasai tuannya dan tuannya pun hanya akan bisa bercerita tentang masa lalunya yang jaya.
Untuk itu, kembali kepada tawaran yang diberikan Galtung, tak ada yang harus dilakukan untuk menjadikan Indonesia kembali bernyanyi, kecuali dengan melakukan penguatan ke dalam, baik di bidang ekonomi, politik, budaya ataupun militer. Dengan ini, otonomi yang didukung dengan rasa kepercayaan diri dan cinta tanah air akan menaikkan posisi Indonesia ke derajat yang lebih tinggi. “Dengan ilmu pengetahuanlah manusia akan diangkat derajatnya”, setidaknya demikian al-Qur’an mengajarkan. Dan dengan kemandirian ekonomilah Indonesia akan setara dengan negara lain, karena semakin tinggi TKI di luar negeri, maka semakin rendah pula wibawa pemerintah Indonesia di mata dunia.
Semakin Indonesia berada dalam subordinasi, maka semakin besr pula Indonesia dikuasai oleh bangsa lain.
oleh: Muhammad Hafiz
Hemat saya, keberanian Malaysia tak lain didukung oleh kepercayaan diri mereka terhadap kondisi negaranya saat ini. Johan Galtung pernah memberikan pola hubungan antara negara dengan menyebutkan bahwa penguasaan oleh satu bangsa terhadap bangsa lain akan terjadi ketika satu bangsa tertentu memiliki sumber daya, baik itu militer, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya, lebih daripada bangsa yang dikuasai. Secara konkret memang Indonesia tak pernah dikuasai atau dijajah oleh Malaysia. Namun, bila diamati lebih mendalam, Indonesia sangat tergantung secara ekonomi dengan Malaysia, terutama ketika Indonesia sangat memanjakan para TKI dan menganggapnya sebagai devisa terbesar negara.
Memang tak dapat disalahkan para pahlawan devisa ini, karena perubahan masyarakat Indonesia menuju modernsasi dan materialistik juga akibiat proses pembangunan ekonomi yang diperankan negara ketika Orde Baru. Pun demikian, tak bisa disalahkan pula ketika tuntutan hidup mendorong mereka untuk meraup rizki di negeri orang hanya karena negara tak mampu memberikan kepastian pekerjaan kepada mereka. Dalam hal ini, kondisi ekonomi Indonesia yang kian memprihatinkan menjadikan Indonesia telah kalah dengan negeri jiran dan memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia meminta sesuap nasi.
Selain itu, sejak runtuhnya rezim Orde Baru, Indonesia semakin mengakui kemajuan ilmu pengetahuan Malaysia. Jika dahulu Anwar Ibrahim sempat sekolah di Indonesia, saat ini justru sebaliknya, orang Indonesia dengan bangga menyebutkan bahwa ia besekolah di Malaysia. Tentu perubahan tersebut juga semakin memojokkan posisi Indonesia di mata Malaysia secara lebih khusus, dan di mata dunia secara lebih umum.
Maka itu, ketergantungan ekonomi Indonesia dengan ditandari maraknya para TKI yang datang ke negeri Jiran, ataupun kemajuan Malaysia dalam ilmu pengetahuan, menjadikan Indonesia tergantung dan tersubordinat dengan anakbuahnya sendiri. Ketika anak buah telah mampu mengalahkan tuannya, maka hukum alam pun terjadi, anak buah lah saat ini akan menguasai tuannya dan tuannya pun hanya akan bisa bercerita tentang masa lalunya yang jaya.
Untuk itu, kembali kepada tawaran yang diberikan Galtung, tak ada yang harus dilakukan untuk menjadikan Indonesia kembali bernyanyi, kecuali dengan melakukan penguatan ke dalam, baik di bidang ekonomi, politik, budaya ataupun militer. Dengan ini, otonomi yang didukung dengan rasa kepercayaan diri dan cinta tanah air akan menaikkan posisi Indonesia ke derajat yang lebih tinggi. “Dengan ilmu pengetahuanlah manusia akan diangkat derajatnya”, setidaknya demikian al-Qur’an mengajarkan. Dan dengan kemandirian ekonomilah Indonesia akan setara dengan negara lain, karena semakin tinggi TKI di luar negeri, maka semakin rendah pula wibawa pemerintah Indonesia di mata dunia.
Semakin Indonesia berada dalam subordinasi, maka semakin besr pula Indonesia dikuasai oleh bangsa lain.
oleh: Muhammad Hafiz
Jumat, 21 Agustus 2009
Teorisme dan Perang Melawan Hawa Nafsu
Kembali berita tentang terorisme mencuat ke permukaan setelah munculnya persangkaan adanya peran Osama bin Laden di balik aksi pengeboman JW Marriot dan Ritz-Carlton (Sumeks, 20/8/09). Tak hanya itu, posisi umat Islam pun semakin dipojokkan, demikian menurut sebagian kelompok yang merasa operasi pemberantasan teroris sudah mulai berlebihan.
Wacana tentang Islam dan terorisme ini akan membangkitkan kembali ingatan tentang bagaimana Islam sesungguhnya, seperti halnya terjadi di Amerika Serikat pasca peritiwa 11 September 2001. Namun, karena penduduk Indonesia yang mayoritas justru menjadikan isu-siu ini semakin ditanggapi memojokkan umat Islam dan tidak demikian ternyata di negeri Paman Sam. Di Amerika, tercatat pasca peritiwa Pentagon justru terjadi peningkatan besar-besar masyarakat yang memeluk agama Islam. Sejak itu pula, Penerbit, Media Massa, dan toko-toko buku justru kebanjiran pelanggan. Pasalnya sama seperti di Indonesia, rasa penasaran terhadap Islam ternyata mennyampaikan mereka pada kesimpulan bahwa tidak ada sama sekali hubungan antara Islam dan terorisme, bahkan sebaliknya, mereka memeluk Islam karena agama ini dianggap humanis, menjunjung tinggi rasa kasih sayang dan toleransi, serta cocok dengan kepribadian mereka. Dipungkiri ataupun tidak ini adalah fakta dan sulit untuk dibantah. Yang menjadi pertanyaan kemudian mengapa di Indonesia aksi teror justru semakin membuat Islam terpojok, padahal hal serupa juga terjadi pada muslim Amerika?
Sepulang dari perang Badar – yang diakui sebagai peperangan paling besar dalam Islam – Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat, “Kita baru saja pulang dari perang kecil, dan sebentar lagi akan menempuh satu peperangan yang lebih besar”. Para sahabat pun terperangah, perang apa gerangan yang lebih besar dari Badar. Rasul pun melanjutkan, “Perang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan”. Sekelumit kisah tersebut setidaknya memberikan satu gambaran kepada kita bahwa musuh yang paling besar untuk dihadapi oleh umat Islam adalah perang melawan hawa nafsu, bukan peperangan fisik. Maka itu, menahan diri untuk tidak memaksa, meneror dan melakukan kekerasan terhadap sesama dan tidak berdosa merupakan sesuatu yang lebih penting dan bernilai daripada aksi-aksi teror itu sendiri. Pun demikian, ayat dalam al-Qur’an dan praktik yang dilakukan oleh Rasul pun lebih banyak menyuruh umat Islam untuk menjalin perdamaian dan berkasih-sayang daripada melakukan tindakan-tindakan anarkis terhadap sesama.
Dalam konteks sekarang, ilmu pengetahuan semakin maju dan berkembang, sementara umat Islam masih terasa terombang-ambing dengan modernisme dan kemajuan zaman, maka tak ada yang dapat dilakukan kecuali mengejer ketertinggalan yang ada. Ketertinggalan bukan berarti harus dimaknai dengan jihad fisik dengan melakukan pengrusakan, teror, ataupun perang angkat senjata, tetapi justru dengan menggunakan kekuatan ilmu yang dimiliki. Jihad, demikian Rasulullah pernah berkata, salah satunya adalah menuntut ilmu. “Barang siapa yang pergi keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka itu dinilai oleh Allah sebagai jihad sampai ia kembali”. Maka itu, kontekstualisasi nilai-nilai Islam dan spirit humanisme Islam yang selalu ditekankan oleh Rasulullah yang kemudian harus menjadi pegangan.
Kembali ke pertanyaan di atas, kesan pemojokan Islam sebagai dalang di balik aksi teror JW Marriot dan Ritz-Carlton setidaknya menjadikan stimulus bagi umat Islam Indonesia untuk menggali kembali bagaimana Islam sesungguhnya. Perubahan zaman dan kemajuan tekonologi saat ini pun tidak dimaknai sebagai penjajahan kelompok lain terhadap Islam an sich, tapi pula pukulan keras bagi umat Islam yang belum mampu mengembangkan ilmu pengetahuan laiknya masyarakat Islam pada abad ke-10 M. Iri hati, dengki dan kekecewaan yang memuncak terhadap kelompok lain justru tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat Islam lebih tinggi, tapi semakin membuat Islam “terhalang oleh umat Islam itu sendiri”.
Untuk itulah, sembari menyambut bulan Ramadhan yang beberapa saat lagi akan tiba, dengan tetap berjuang menahan hawa nafsu dan keinginan duniawi yang merusak nilai puasa kita, Bulan ini pun akan menjadi moment penting untuk muhasabah diri dan mendalami nilai-nilai yang telah diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Dan semoga, dengan menjalani ibadah ini dengan ikhlas kita mampu mengalahkan musuh terberat yang ada dalam diri kita sendiri dan menjadi hamba-Nya yang bertakwa. []
Wacana tentang Islam dan terorisme ini akan membangkitkan kembali ingatan tentang bagaimana Islam sesungguhnya, seperti halnya terjadi di Amerika Serikat pasca peritiwa 11 September 2001. Namun, karena penduduk Indonesia yang mayoritas justru menjadikan isu-siu ini semakin ditanggapi memojokkan umat Islam dan tidak demikian ternyata di negeri Paman Sam. Di Amerika, tercatat pasca peritiwa Pentagon justru terjadi peningkatan besar-besar masyarakat yang memeluk agama Islam. Sejak itu pula, Penerbit, Media Massa, dan toko-toko buku justru kebanjiran pelanggan. Pasalnya sama seperti di Indonesia, rasa penasaran terhadap Islam ternyata mennyampaikan mereka pada kesimpulan bahwa tidak ada sama sekali hubungan antara Islam dan terorisme, bahkan sebaliknya, mereka memeluk Islam karena agama ini dianggap humanis, menjunjung tinggi rasa kasih sayang dan toleransi, serta cocok dengan kepribadian mereka. Dipungkiri ataupun tidak ini adalah fakta dan sulit untuk dibantah. Yang menjadi pertanyaan kemudian mengapa di Indonesia aksi teror justru semakin membuat Islam terpojok, padahal hal serupa juga terjadi pada muslim Amerika?
Sepulang dari perang Badar – yang diakui sebagai peperangan paling besar dalam Islam – Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat, “Kita baru saja pulang dari perang kecil, dan sebentar lagi akan menempuh satu peperangan yang lebih besar”. Para sahabat pun terperangah, perang apa gerangan yang lebih besar dari Badar. Rasul pun melanjutkan, “Perang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan”. Sekelumit kisah tersebut setidaknya memberikan satu gambaran kepada kita bahwa musuh yang paling besar untuk dihadapi oleh umat Islam adalah perang melawan hawa nafsu, bukan peperangan fisik. Maka itu, menahan diri untuk tidak memaksa, meneror dan melakukan kekerasan terhadap sesama dan tidak berdosa merupakan sesuatu yang lebih penting dan bernilai daripada aksi-aksi teror itu sendiri. Pun demikian, ayat dalam al-Qur’an dan praktik yang dilakukan oleh Rasul pun lebih banyak menyuruh umat Islam untuk menjalin perdamaian dan berkasih-sayang daripada melakukan tindakan-tindakan anarkis terhadap sesama.
Dalam konteks sekarang, ilmu pengetahuan semakin maju dan berkembang, sementara umat Islam masih terasa terombang-ambing dengan modernisme dan kemajuan zaman, maka tak ada yang dapat dilakukan kecuali mengejer ketertinggalan yang ada. Ketertinggalan bukan berarti harus dimaknai dengan jihad fisik dengan melakukan pengrusakan, teror, ataupun perang angkat senjata, tetapi justru dengan menggunakan kekuatan ilmu yang dimiliki. Jihad, demikian Rasulullah pernah berkata, salah satunya adalah menuntut ilmu. “Barang siapa yang pergi keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka itu dinilai oleh Allah sebagai jihad sampai ia kembali”. Maka itu, kontekstualisasi nilai-nilai Islam dan spirit humanisme Islam yang selalu ditekankan oleh Rasulullah yang kemudian harus menjadi pegangan.
Kembali ke pertanyaan di atas, kesan pemojokan Islam sebagai dalang di balik aksi teror JW Marriot dan Ritz-Carlton setidaknya menjadikan stimulus bagi umat Islam Indonesia untuk menggali kembali bagaimana Islam sesungguhnya. Perubahan zaman dan kemajuan tekonologi saat ini pun tidak dimaknai sebagai penjajahan kelompok lain terhadap Islam an sich, tapi pula pukulan keras bagi umat Islam yang belum mampu mengembangkan ilmu pengetahuan laiknya masyarakat Islam pada abad ke-10 M. Iri hati, dengki dan kekecewaan yang memuncak terhadap kelompok lain justru tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat Islam lebih tinggi, tapi semakin membuat Islam “terhalang oleh umat Islam itu sendiri”.
Untuk itulah, sembari menyambut bulan Ramadhan yang beberapa saat lagi akan tiba, dengan tetap berjuang menahan hawa nafsu dan keinginan duniawi yang merusak nilai puasa kita, Bulan ini pun akan menjadi moment penting untuk muhasabah diri dan mendalami nilai-nilai yang telah diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Dan semoga, dengan menjalani ibadah ini dengan ikhlas kita mampu mengalahkan musuh terberat yang ada dalam diri kita sendiri dan menjadi hamba-Nya yang bertakwa. []
Pemuda, Pendidikan, dan Demokrasi Indonesia.
Pemuda, Pendidikan, dan Demokrasi Indonesia
Tak muluk-muluk cita-cita yang ingin kugapai. Cukup menjadi seorang tokoh masyarakat, yang tinggal di kampung, hidup sederhana bersama keluarga dan anak cucu. Sekilas terbanyang dari sini bagaimana WS. Rendra berperan sebagai Kepala Kampung Samin, dalam film Lari Dari Blora. Ketokohannya, kearifannya, dan kemapuannya menyelesaikan masalah-masalah masyarakat menjadikannya semakin dipercaya oleh masyarakat yang terbatas ilmu pengetahuan dan sangat sederhana. Ketokohannya ini memberikan isyarat bahwa masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan pemimpin yang selalu mendampingi kehidupan mereka.
Laiknya bangsa yang sedang menjalani masa transisi pembangunan, masyarakat Indonesia terfragmentasi sedemikian rupa, antara penduduk perkotaan dan pedesaan. Dan imbas dari ketidakmerataan ini adalah aspek pendidikan yang timpang antara keduanya. Bahkan, dalam banyak tinjauan kebudayaan menyebutkan, tidak hanya aspek materi yang berbeda, tapi nilai, persepsi dan pandangan hidup masyarakat perkotaan dan pedesaan seringkali tak beriringan. Masyarakat kota dikenal lebih maju dan modern, sedangkan penduduk desa lebih tradisional, komunal, dan sederhana.
Dalam suasana masyarakat pedesaan tentu hal ini tidak akan menjadi problem, namun untuk konteks Indonesia yang semakin maju dan modern, beberapa corak masyarakat desa yang tradisionalis justru tak cukup relevan untuk selalu dipegang. Dalam hal politik nasional, misalnya, proses demokrasi yang semakin menuntut partisipasi masyarakat tak akan mampu hidup dalam satu masyarakat yang masih mengandalkan budaya priyai. Akibatnya, proses politik hanya menjadi sebuah rutinitas tak bermakna belaka. Masyarakat menjadi alat produksi jabatan, sementara di sisi lain merekapun tak pernah diperhatikan.
Tingkat pendidikan yang rendah dan kecenderungan budaya politik yang timpang menjadikan partisipasi mandeg di tengah jalan. Tak sedikit masyarakat yang a priori dengan politik, karena tak ada bedanya mereka memilih pemimpin atau tidak. Akibatnya, tak ayal jika proses politik hanya disemarakkan dengan membagi-bagi sembako dan pesta amplop, karena kekecewaan itu tak membuat masyarakat berfikir panjang dengan tindakannya. Hal ini pun diperparah dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sulit beranjak dari keterpurukan.
Masyarakat Indonesia memang berbeda dengan masyarakat negara maju, Amerika misalnya. Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi menjadikan mereka malu jika tidak berpartisipasi. Proses demokrasi yang sedang dilalui oleh bangsa Indonesia saat ini pun tak dapat ditinggalkan. Tak ada yang harus dilakukan, kecuali hadapi proses demokrasi sembari membenahi kondisi yang ada.
Untuk itulah, sulit kiranya mencapai satu negara yang demokratis jika taraf pendidikan dan kesadaran masyarakat masih rendah. Partisipasi politik, sebagai salah satu pilar penting demokrasi, justru tak berjalan, karena budaya politik masyarakat pedesaan masih berada pada spektrum feodal. Hal inilah yang mengharuskan pemuda berfikir keras untuk membenahi masyarakat Indonesia yang 70% tinggal di pedesaan. Dan salah alternatif yang sangat mungkin dilakukan adalah meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, baik secara formal atau informal, demi kelangsungan proses demokrasi Indonesia ke depan. Upaya ini tidak hanya semakin mengokohkan demokrasi Indonesia, tapi pula sebagai pemerdekaan masyarakat dari ketergantungan, keterkungkungan dan belenggu, laiknya Arminj Pane menulis dalam novelnya.
Tanpa sikap individualisme yang kuat dan didorong oleh tingkat masyarakat berpendidikan, kondisi demokrasi Indonesia tak mudah untuk diubah. Negara hanya dipimpin oleh para politisi yang lupa dengan kulitnya, bak para raja dan bangsawan di zaman feodal. Sementara rakyat jelata tetap berjalan sendiri-sendiri, bak kucing yang kehilangan induknya. Dan senyatanya, kemandegan partisipasi politik justru menjadikan kebijakan negara tak bepihak kepada masyarakat.
Maka dari itu, beban besar bagi pemuda Indonesia dalam mengisi kemerdekaan adalah memerdekakan masyarakat secara budaya, melepaskannya dari belenggu tradisionalisme dan membangun satu barisan sosial berpendidikan untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis. Tentu pula hal ini yang telah diamanatkan oleh Prembule UUD 1945 sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah saatnya kaum muda menjadi pemimpin terdepan dalam perubahan zaman yang semakin canggih dan membangun masyarakat madani yang demokratis.
Tak muluk-muluk cita-cita yang ingin kugapai. Cukup menjadi seorang tokoh masyarakat, yang tinggal di kampung, hidup sederhana bersama keluarga dan anak cucu. Sekilas terbanyang dari sini bagaimana WS. Rendra berperan sebagai Kepala Kampung Samin, dalam film Lari Dari Blora. Ketokohannya, kearifannya, dan kemapuannya menyelesaikan masalah-masalah masyarakat menjadikannya semakin dipercaya oleh masyarakat yang terbatas ilmu pengetahuan dan sangat sederhana. Ketokohannya ini memberikan isyarat bahwa masyarakat Indonesia masih sangat membutuhkan pemimpin yang selalu mendampingi kehidupan mereka.
Laiknya bangsa yang sedang menjalani masa transisi pembangunan, masyarakat Indonesia terfragmentasi sedemikian rupa, antara penduduk perkotaan dan pedesaan. Dan imbas dari ketidakmerataan ini adalah aspek pendidikan yang timpang antara keduanya. Bahkan, dalam banyak tinjauan kebudayaan menyebutkan, tidak hanya aspek materi yang berbeda, tapi nilai, persepsi dan pandangan hidup masyarakat perkotaan dan pedesaan seringkali tak beriringan. Masyarakat kota dikenal lebih maju dan modern, sedangkan penduduk desa lebih tradisional, komunal, dan sederhana.
Dalam suasana masyarakat pedesaan tentu hal ini tidak akan menjadi problem, namun untuk konteks Indonesia yang semakin maju dan modern, beberapa corak masyarakat desa yang tradisionalis justru tak cukup relevan untuk selalu dipegang. Dalam hal politik nasional, misalnya, proses demokrasi yang semakin menuntut partisipasi masyarakat tak akan mampu hidup dalam satu masyarakat yang masih mengandalkan budaya priyai. Akibatnya, proses politik hanya menjadi sebuah rutinitas tak bermakna belaka. Masyarakat menjadi alat produksi jabatan, sementara di sisi lain merekapun tak pernah diperhatikan.
Tingkat pendidikan yang rendah dan kecenderungan budaya politik yang timpang menjadikan partisipasi mandeg di tengah jalan. Tak sedikit masyarakat yang a priori dengan politik, karena tak ada bedanya mereka memilih pemimpin atau tidak. Akibatnya, tak ayal jika proses politik hanya disemarakkan dengan membagi-bagi sembako dan pesta amplop, karena kekecewaan itu tak membuat masyarakat berfikir panjang dengan tindakannya. Hal ini pun diperparah dengan kondisi masyarakat Indonesia yang sulit beranjak dari keterpurukan.
Masyarakat Indonesia memang berbeda dengan masyarakat negara maju, Amerika misalnya. Tingkat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi menjadikan mereka malu jika tidak berpartisipasi. Proses demokrasi yang sedang dilalui oleh bangsa Indonesia saat ini pun tak dapat ditinggalkan. Tak ada yang harus dilakukan, kecuali hadapi proses demokrasi sembari membenahi kondisi yang ada.
Untuk itulah, sulit kiranya mencapai satu negara yang demokratis jika taraf pendidikan dan kesadaran masyarakat masih rendah. Partisipasi politik, sebagai salah satu pilar penting demokrasi, justru tak berjalan, karena budaya politik masyarakat pedesaan masih berada pada spektrum feodal. Hal inilah yang mengharuskan pemuda berfikir keras untuk membenahi masyarakat Indonesia yang 70% tinggal di pedesaan. Dan salah alternatif yang sangat mungkin dilakukan adalah meningkatkan taraf pendidikan masyarakat, baik secara formal atau informal, demi kelangsungan proses demokrasi Indonesia ke depan. Upaya ini tidak hanya semakin mengokohkan demokrasi Indonesia, tapi pula sebagai pemerdekaan masyarakat dari ketergantungan, keterkungkungan dan belenggu, laiknya Arminj Pane menulis dalam novelnya.
Tanpa sikap individualisme yang kuat dan didorong oleh tingkat masyarakat berpendidikan, kondisi demokrasi Indonesia tak mudah untuk diubah. Negara hanya dipimpin oleh para politisi yang lupa dengan kulitnya, bak para raja dan bangsawan di zaman feodal. Sementara rakyat jelata tetap berjalan sendiri-sendiri, bak kucing yang kehilangan induknya. Dan senyatanya, kemandegan partisipasi politik justru menjadikan kebijakan negara tak bepihak kepada masyarakat.
Maka dari itu, beban besar bagi pemuda Indonesia dalam mengisi kemerdekaan adalah memerdekakan masyarakat secara budaya, melepaskannya dari belenggu tradisionalisme dan membangun satu barisan sosial berpendidikan untuk menyongsong Indonesia yang lebih demokratis. Tentu pula hal ini yang telah diamanatkan oleh Prembule UUD 1945 sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sudah saatnya kaum muda menjadi pemimpin terdepan dalam perubahan zaman yang semakin canggih dan membangun masyarakat madani yang demokratis.
Langganan:
Postingan (Atom)
