Teringat akan masa kecil ketika bermain petak-umpet (pga: samsimbon), berlari ke sana ke mari, waspada, n berfikir keras bagaimana sampai ke pusat penjagaan terkuat. Pun demikian dengan patok lilin, menggunakan ketangkasan utk memukul stick yg terbuat dari kayu. Kelereng juga sama, meski dengan debu dan tanah yang menyertai, tetapi kesenangan itu sulit ditandingi dg permainan zaman skrang. Dan ada banyak permainan yg sering dilakukan.
Namun sayang, semua itu hampir hilang dan tak ditemui lagi. Ke manakah permainan yang sejak kecil sangat kugandrungi itu? Oh... Ternyata ia mulai tak sesuai dengan kebutuhan anak-anak zaman sekarang. Anak-anak yang hidup di tengah arus teknologi dan informasi ternyata lebih memilih permainan modern. PS, misalnya, menjadi salah satu pilihan ketika 'Dingdong' dan 'Sega' tak ditemui. PUn demikian dengan yang lain.
Apakah perubahan ini salah? Tentu tidak. "Itukan karena kau aja yang hidupnya di masa klasik!" Demikian kiranya seorang teman sering menghardik ketika kita mempersoalkan masalah ini. Itulah kenyataan yang tak dapat dihindarkan, proses modernisasi dan globalisasi telah membawa kita bergabung dengan masyarakat dunia yang lebih luas, berikut permainan dan perangkatnya, meskipun secara lebih jujur harus diakui kita hanya terbatas pada pengguna, konsumtor, dan penghamba kepada produk-produk tersebut.
****
Beberapa analisa psikologis menyebutkan bahwa kecenderungan anak-anak bermain PS ternyata memiliki kepekaan sosial lebih kecil dibandingkan anak-anak yang lain. Mengapa demikian, sifat individualisasi yang ditanam dalam permainan ini cukup kuat. Pertama, mereka selalu berada dalam lingkungannya sendiri, terlepas dari masyarakat(anak-anak)nya. Dan kedua, emosi mereka selalu distimulus untuk mengalahkan lawannya.
Dalam pengertian tertentu individualis cukup bermanfaat, setidaknya mendorong orang untuk bereksistensi dan kompetesi. Toh, dari sini juga muncul peradaban modern. Namun, dalam tataran yang sangat rapuh, individualis justru melepaskannya dari jiwa sosial yang selama ini dikenal kuat di masyarakat Indonesia. Dan cukup bisa dibayangkan jika masyarakat Indonesia dua puluh, tiga puluh, bahkan setengah abad ke depan disesaki oleh mereka yang bersifat seperti ini.
Permainan modern yang ternyata diterima secara instant saja seperti ini juga menanamkan rasa manja. Tidak ada lagi usaha untuk mendapatkan satu karya yang sempurna, seperti ketika harus membuat mobil2an dari bambu atau senapan panjang dari (pelepah) daun pisang. Implikasinya tentu akan semakin menguatkan masyarakat kita yang semakin tergantung dengan produk-produk instant dan cenderung konsumtif. Dengan tingkat kreatifitas yang tinggi saja sulit untuk menciptakan sesuatu, apalagi dengan proses yang hanya 'nrimo'.
Galtung dalam karangannya menyebutkan bahwa salah satu faktor yang melanggengkan penjajahan dan kekuasaan adalah kemajuan teknologi satu negara atas negara lain, dan negara yang lebih maju membuat negara "ketiga/feri-feri" selalu tergantung, baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ataupun budaya. Lalu, sampai kapan Indonesia bisa berdikari jik apara penerus bangsanya dididik dari kecil untuk tergantung dengan produk instant (terutama dalam permainan) yang selalu membuat kreatifitas mereka mati?
Dalam pada itu, selain jarang berkomunikasi dengan lingkungannya, kebiasaan anak-anak yang bermain di rumah pun membuat mereka sangat jarang menggerakkan badan. Tak menjadi kekhawatiran jika olah raga di sekolah mampu memfasilitasi kebutuhan olah tubuh mereka. Dalam beberapa hal ternyata banyak anak-anak yang asyik dengan permainan yang hanya mengandalkan jari tangan saja. Hal ini tentu berakibat buruk kepada kesehatan dan kelangsungan tubuhnya di hari yang akan datang.
Untuk itu, tak banyak yang dapat dilakukan dalam kehidupan yang semakin maju ini, kecuali melakukan sesuatu yang sepele tatapi memiliki efek besar di masa depan, mulai dari yang paling kecil sampai hal-hal besar yang ada di sekeliling kita. Tentu kita tak pernah setuju jika anak-anak Indonesia menjadi 'autis' (mf jika penggunaan kt ini tidak cukup sesuai) semua dan sibuk asyik dengan permainnya sendiri, karena autis dengan permainan seperti ini tidak akan memunculkan pemikir besar seperti Enstein atau Thomas A. Edison, seperti yang disebutkan di film India. Pun juga kita tak pernah bermimpi bangsa ini terus-menerus menjadi konsumtor terhadap hasil karya orang lain, meskipun kecenderungan itu semakin kuat terasa. Dan juga tak pernah kita harapkan bangsa ini menjadi bangsa yang tak berwibawa hanya karena anak-anak dan penerusnya tak cukup kreatif untuk menjadi besar. Begitu pula tak pernah terlintas dalam benak kita bangsa ini ke depan menjadi bangsa yang loyo hanya karena anak-anak mereka selalu duduk di depan monitor TV dengan memegang stick PS. Dan, terakhir untuk saat ini, tak pernah kita bermimpi Indonesia mendapat gelar juara dunia dalam Sepak Bola di dunia maya, hanya karena anak-anak dan penerus bangsa ini terus mengejar permainan sepak bola terbaru.
Hiduplah Indonesia, Hiduplah Anak-anak Indonesia...
Sybbanul Yaum, Rijalul Ghadd...
Jumat, 28 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar