Jumat, 28 Agustus 2009

Malaysia dan Kekuasaan

Kembali Indonesia ditantang oleh negeri J(T)iran. Pasca kemerdekaan, Indonesia pernah berseteru dengan Malaysia, meskipun sikap keras Soekarno tetap menjadikan Indonesia berwibawa. Pun demikian masa Soeharto (bukan pula bermaksud membela secara penuh), tak sedikitpun terdengar kabar Indonesia diusik oleh Malaysia. Namun saat ini keadaan begitu drastis berubah. Indonesia seolah “diacak-acak” oleh Malaysia, dengan mengambil kekayaan Indonesia, baik secara materi atau immateri.

Hemat saya, keberanian Malaysia tak lain didukung oleh kepercayaan diri mereka terhadap kondisi negaranya saat ini. Johan Galtung pernah memberikan pola hubungan antara negara dengan menyebutkan bahwa penguasaan oleh satu bangsa terhadap bangsa lain akan terjadi ketika satu bangsa tertentu memiliki sumber daya, baik itu militer, ekonomi, kebudayaan, dan sebagainya, lebih daripada bangsa yang dikuasai. Secara konkret memang Indonesia tak pernah dikuasai atau dijajah oleh Malaysia. Namun, bila diamati lebih mendalam, Indonesia sangat tergantung secara ekonomi dengan Malaysia, terutama ketika Indonesia sangat memanjakan para TKI dan menganggapnya sebagai devisa terbesar negara.

Memang tak dapat disalahkan para pahlawan devisa ini, karena perubahan masyarakat Indonesia menuju modernsasi dan materialistik juga akibiat proses pembangunan ekonomi yang diperankan negara ketika Orde Baru. Pun demikian, tak bisa disalahkan pula ketika tuntutan hidup mendorong mereka untuk meraup rizki di negeri orang hanya karena negara tak mampu memberikan kepastian pekerjaan kepada mereka. Dalam hal ini, kondisi ekonomi Indonesia yang kian memprihatinkan menjadikan Indonesia telah kalah dengan negeri jiran dan memaksa sebagian besar masyarakat Indonesia meminta sesuap nasi.

Selain itu, sejak runtuhnya rezim Orde Baru, Indonesia semakin mengakui kemajuan ilmu pengetahuan Malaysia. Jika dahulu Anwar Ibrahim sempat sekolah di Indonesia, saat ini justru sebaliknya, orang Indonesia dengan bangga menyebutkan bahwa ia besekolah di Malaysia. Tentu perubahan tersebut juga semakin memojokkan posisi Indonesia di mata Malaysia secara lebih khusus, dan di mata dunia secara lebih umum.

Maka itu, ketergantungan ekonomi Indonesia dengan ditandari maraknya para TKI yang datang ke negeri Jiran, ataupun kemajuan Malaysia dalam ilmu pengetahuan, menjadikan Indonesia tergantung dan tersubordinat dengan anakbuahnya sendiri. Ketika anak buah telah mampu mengalahkan tuannya, maka hukum alam pun terjadi, anak buah lah saat ini akan menguasai tuannya dan tuannya pun hanya akan bisa bercerita tentang masa lalunya yang jaya.

Untuk itu, kembali kepada tawaran yang diberikan Galtung, tak ada yang harus dilakukan untuk menjadikan Indonesia kembali bernyanyi, kecuali dengan melakukan penguatan ke dalam, baik di bidang ekonomi, politik, budaya ataupun militer. Dengan ini, otonomi yang didukung dengan rasa kepercayaan diri dan cinta tanah air akan menaikkan posisi Indonesia ke derajat yang lebih tinggi. “Dengan ilmu pengetahuanlah manusia akan diangkat derajatnya”, setidaknya demikian al-Qur’an mengajarkan. Dan dengan kemandirian ekonomilah Indonesia akan setara dengan negara lain, karena semakin tinggi TKI di luar negeri, maka semakin rendah pula wibawa pemerintah Indonesia di mata dunia.
Semakin Indonesia berada dalam subordinasi, maka semakin besr pula Indonesia dikuasai oleh bangsa lain.

oleh: Muhammad Hafiz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar