Jumat, 28 Agustus 2009

Penyakit itu adalah Ego

Dalam banyak karangannya Khaled A. Fadl banyak mengomentari tentang kelompok yang mengaku kaki tangan Tuhan. Secara umum ia menyatakan, tak ada yang mengetahui secara mutlak Pesan yang disampaikan Tuhan kepada manusia melalui al-Qur'an, semuanya meraba dan berusaha mencapai titik pengetahuan tertinggi. Untuk itulah, tidak satu pun orang yang bisa mengklaim kebenaran penafsirannya, karena semua orang bebas untuk berpendapat dan meraba.
Eksklusifitas penafsiran bukan tak berakibat, justru ia akan menutup kemungkinan-kemungkinan yang lebih baik. Tak hanya itu, seseorang akan terperangkap pada klaim kebenaran absolut, Jubah yang hanya dimiliki-Nya. Untuk tidak mengatakan telah menyaingi kekuasaan Allah (syirik), klaim kita terkadang melampaui kemampuan yang kita miliki.
Demikian kiranya sebagai manusia yang lemah, kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar untuk mendapatkan taraf pemahaman tertinggi, seperti halnya tertoreh dalam sejarah, Imam al-Syafi;i tak pernah menyalahkan Abu Hanifah yang liberal, atau sebaliknya. Pun demikian dengan Malik dan Ahmad. Lalu mengapa sebagai penerus yg tak sebanding dengan mereka kita merasa lebih baik dan paling benar?
Cukuplah sejarah memberikan "ibrah" bagi kita, bahwa klaim kebenaran, apalagi dengan pemaksaan tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat seluruh umat manusia beriman. Mu'tazilah ternyata tidak mampu membuat Imam Ahmad dan pengikut mengakui pemahaman teologisnya (Mu'tazilah), seperti halnya Hatta yang harus keluar dari panggung politik ketika Soekarto mulai otoriter.
Pun demikian dengan kekuatan Orde Baru, Islam Indonesia tetap selalu bernyanyi. Lalu, masihkah kita mengedepankan EGO untuk memaksakan orang lain dengan cara yang kejam?
Sampai hari ini, jam ini, menit ini dan detik kata terakhir tulisan ini diketik, saya tetap yakin bahwa Islam adalah anti kekerasan dan lebih mengutamakan kedamaian....
Wallahu A'lam...

by. Muhammad Hafiz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar