Secara historis Indonesia tak dapat dipisahkan dari kondisi dan struktur sosial masyarakatnya, yang - selama berabad-abad - tertata rapi dalam pola tingkahlaku mrk. Menurut beberapa budayawan, salah satu alasan Islam cepat diterima oleh bangsa Indonesia, karena Islam memiliki spirit yang memandang manusia setara, sama dan sederajat. Setidaknya disebutkan, "Inna akramakum 'indallahi atqokum", yang mampu meminimalisasi struktur masyarakat Hindu yang berkasta-kasta. Masuknya Islam juga memberika spirit terhadap etos kerja yang kuat, karena dalam Islam nilai ekonomi dipandang tinggi, (meskipun tidak demikian menurut Weber).
***
Peradaban dan nilai yg dibawa Islam pun masih dirasakan di beberapa pola laku masyarakat Indonesia, meskipun daerah tersebut dapat dihitung jari. Kemandirian, kesamaan, n memandang manusia setara yang merasuk dlm alam bwh sadar masyarkat ternyata dibiaskan kembali dengan munculnya kelas menengah Indonesia awal abad ke-20. Fenomena direkrutnya masyarakat terdidik menjadi petugas Kolonial justru memupuk kembali nilai-nilai egaliterianisme yg telah tertanam dan membentuk masyarakat yg berkasta-kasta, meski tak sama dg keadaan seblmnya (kasta dalam masyarakat Hindu).
Tingkatan masyarakat ini tidak hanya menjadikan bangsa Indonesia terpecah belah, tapi akibat yg paling signifikn keadaan tersebut menjadi penghalang untuk mengembangkan masyarakat Indonesia yg mandiri a/ sifat tunduk, patuh, dan menghormati kelompok atas secara berlebihan. Akibatnya, tak jarang orang Indonesia sendiri merasa lebih rendah, hina, tak berpendidikan, dan ragu-ragu bila berhadapan dengan kelompok/individu lain yg lebih maju, baik secara ekonomi, sosial, politik ataupun budaya. Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang "manut" dan "lesu", tak bergairah, tak inovatif, cenderung meniru dan selalu menerima. Di mana kekuatan bangsa Indonesia seperti yang diperankan oleh Gajah Mada. Atau keberanian yang dimiliki oleh Ken Arok, atau peranperan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Dalam satu analisa dinyatakan bahwa Indonesia belum siap untuk berdemokrasi, karena masyarakatnya masih tradisional, sedangkan demokrasi sendiri cocok untk masyarakat yang telah dewasa secara politik. Pun demikian disebutkan bahwa salah alasan mengapa terorisme menjadi subur di Indonesia, karena orang Indonesia selalu menganggap orang luar, orang asing, orang bule, atau orang 'Areb (bukan Areb nengdi), memiliki kedudukan dan keshalihan yang lebih tinggi. Dan tak jarang dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati masyarakat bangsa ini harus tunduk dengan keangkuhan dan kepongahan bangsa lain. Dengan ini, tak heran bila bangsa Indonesia sering disebut dengan bangsa yang ramah dan lemah lembut, karena hal ini pula yang menjadi alasan mengapa Belanda memilih Nusantara sebagai tempat kolonialisasi dan eksis di Nusantara ratusan tahun.
Kita orang pertama yang menghujat kekejaman pemerintah Saudi atau Malaysia yang mebiarkan warga negara (Indonesia) diperlakukan tidak manusiawi, tetapi kita pula orang pertama yang mencium tangan mereka ketika mereka datang ke negeri ini. Kita menjadi orang pertama yang menginginkan Tuhan (Allah) menjadi satu-satunya Zat Paling Maha, tetapi ketika seorang hartawan, pejabat dan makhluk yang meminjam keagungan-Nya datang mengahmpiri kita orang yang pertama mencium kaki dan menerima segala perlakuannya demi seonggah uang atau jabatan. Dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Lalu, ada apa dengan orang Indonesia? [*]
Wallahu A'lam Bis Shawab
Bangkitlah Bangsaku
By. Muhammad Hafiz
Jumat, 28 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar