Ketika SD seringkali muallim (Ustadz untk konteks skrang) mengajarkan tentang tauhid dan isinya tak jauh dari keimanan kepada Allah, Rasul, Kitab, Malaikat, Hari Akhir, dan Qhda n Qadar. Lalu apa yang menjadikan Tauhid cocok untuk disandingkan dengan tema kemerdekaan kita.
Ada banyak tokoh yg melihat tauhid sebagai pembebasan, karena hanya Tuhan yang Esa-lah diakui secara mutlak. Pengakuan terhadap yg Esa ini tak hanya tersimbol di ucapan saja, tetapi terpatri dalam qalbu dan terejawantah dlm perbuatan, kira2 seperti itu Ibnu Taimiyyah menekankan aspek ini. Hal ini berarti Tauhid mampu meliputi semua tindakan manusia dan (dalam beberapa doktrin Islam disebutkan) menjadi salah satu unsur yang memasukkan seseorang ke surga tanpa hisab (sebuah hadits yang menyatakan "barang siapa dalam akhir ucapannya menyebut 'La Ilaha Illaha dakhala al-Jannah'."
Pengakuan terhadap yang Esa tersebutlah menjadi penting untuk dicatat, karena darinya pula hakikat kemanusiaan akan terwujud. Tauhid mengandung satu kekuatan pembebas dari setiap belenggu dan hegemoni, termasuk materi atau keyakinan . Mengutip Ali Syariati, musuh yg paling sulit dikalahkan oleh manusia adalah dalam dirinya sendiri, Ego.
Laiknya sebuah pertempuran, musuh yang ada di depan mata akan sangat mudah dilawan. Namun berbeda dengan musuh di dalam selimut, abstrak, laten, tapi mematikan. Yang disebutkan kedua ini lebih memiliki kekuatan destruktif daripada yg pertama, meski tak terlihat oleh mata. Kekuatan untuk memahami substansilah yang mampu melawannya, 'bak' dunia sihir yg mampu dilawan dengan sihir pula.
***
Saat ini, ancaman krisis ekonomi begitu sering dialami, terutama pasca reformasi. Namun bangsa ini telah cukup mampu menghadapinya, karena telah berabad-abad bahkan ribuan tahun masyarakat Nusantara terbiasa hidup susah. Masyarakat Indonesia terbiasa dengan kehidupan yang minim, tak cukup makanan, busung lapar yang melanda, atau hanya tidur di kolong jembatan seperti para TKI yang - entah bisa merayakan HUT RI 64 atau tidak - ada di Saudi. Tapi kita mampu berhadapan dengan momok kemiskinan itu dan terbukti.
Hanya saja, untuk mengatasi musuh yang lebih laten bangsa ini cukup sempoyongan. Budaya materialiastis yang tumbuh dan meninggalkan budaya lama pun semakin mencuat ke permukaan. Seolah tak ada yang kita pikirkan kecuali penampilan diri di depan orang, kondisi ekonomi yang mapan, pakaian necis yang menaikkan status, atau pun 'pakaian keagamaan' yang menaikan drajat ketakwaan seseorang. Kita lalai dalam hal ini. Penilaian selalu ditinjau dari materi, karena hanya materilah yang nampak di mata kita dan menopang status sosial seseorang. Tapi sejauh mana Tuhan akan mampu melihat status kita yang tinggi, masyarakat miskin yang tidak butuh dengan parfum wangi dan mahal, serta para gelandangan yang tidak cukup mementingkan sorban di kepala, menjadikan semua perangkat duniawi di tubuh kita ini cukup berarti.
Kebutuhan dan ketergantungan kita terhadap materi menjadikan kita lupa dengan hakikat. Syariat yang formalistis menjadikan kita tak mampu menggapai status Haji hanya karena tak punya uang. Sekolah yang hanya berstatus swasta menjadikan kita gagal menempuh pendidikan yang lebih baik. Atau hanya karena bukan keturunan konglomerat membuat sebagian besar anak bangsa tak mampu duduk setaraf dengan mereka yang punya segalanya.
***
Terkadang, klaim manusia terhadap keyakinannya justru yang menjadikan dirinya ternoda untuk mengakui bahwa hanya Tuhan lah yang maha segalanya. Dalam pada itu, cukup alasan untuk mengatakan bahwa ego terhadap Sebuah Kebenaran malah menjadikan kita terpuruk dalam kehormatan diri sendiri. Kita lupa bahwa ada yang selalu Tinggi dan Paling Tinggi di antara yang tinggi. Dia-lah Tuhan.
Keberhasilan umat Islam untuk menghancurkan berhala dan patung ternyata tak cukup membuat setan puas dengan kerjanya. Patung-patung itu disulap menjadi senjata yang paling mematikan. Tak terlihat, lembut, mempesona, dan tak terduga bisa merasuki siapa dan dalam bentuk apa saja.
Kecerdasan setan untuk merasuki hati inilah mengancam kebebasan dan kemerdekaan seseorang, karena unsur 'kebaikan' dalam diri seseorang akan mudah dikalahkan. Unsur kebaikan, meskipun menang, akan dipoles sedemikian rupa hingga tak mampu berbuat apa-apa kecuali suatu tingkat keterpurukan terpalung dalam keegoan diri sendiri dan mengenyampingkan-Nya. Dalam hal ini, tak hanya kebaikan yang hilang dari esensinya, tetapi hakikat manusia yang bebas pun tak akan tercapai.
***
Setidaknya, dengan tauhid lah seseorang akan merdeka, baik secara materi atau substansi. Tauhid memerdekaan seseorang dari kungkungan penjajahan, tauhid pula membebaskan diri seseorang dari kungkungan diri sendiri. Tauhid menjadi awal seseorang untuk berkreasi, berbuat, dan memerdekakan diri. Tak ada yang paling urgent dari perjuangan Rasulullah selama puluhan tahun kecuali membebaskan manusia dari belenggu diri sendiri yang tak mampu dihindari masyarakat Arab. Dan tak ada pengakuan besar terhadap peradaban modern, kecuali sebuah pembebasan dari belenggu yang mengawalinya. Itulah sebuah kemerdekaan.
Obrolan ini memancing munculnya pertanyaan terakhir, yaitu bagaimana mengalahkan ego dan materi yang selalu mengungkung kemerdekaan...? ...Cinta... Demikian menurut Syariati. Hanya cinta yang mampu mendorong Nietzsche untuk rela memberikan nyawanya hanya karena seekor kuda yang dipukuli tuannya. Hanya cinta yang mampu membuat seorang ibu rela menderita mengurusi anaknya. Dan hanya karena cinta para pahlawan kemerdekaan mampu menaggalkan kesenangan duaniawinya.
Nampak tak cukup rasional. Memang betul, karena cinta tak berada dalam rasionalitas. Cinta menyatu dalam satu perbuatan yang tanpa henti untuk memberikan sesuatu kepada selainnya. Tanpa pamrih dan harap kembali. Namun iktikadnya untuk memberi inilah memberikan kepastian baginya bahwa tidak ada yang menjadi miliknya, termasuk dirinya sendiri. Cinta selalu meyakinkan bahwa tak ada yang bisa dinikmati dan dikuasai secara penuh. Dan cinta inilah yang mendorong pejuang untuk mengorbankan diri dalam peperangan suci (tapi bukan bom bunuh diri). Dengan cinta juga seseorang mampu memahami perbedaan yang ada dan menerima khaluk-Nya apa adanya.
Jumat, 28 Agustus 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar