Jumat, 21 Agustus 2009

Teorisme dan Perang Melawan Hawa Nafsu

Kembali berita tentang terorisme mencuat ke permukaan setelah munculnya persangkaan adanya peran Osama bin Laden di balik aksi pengeboman JW Marriot dan Ritz-Carlton (Sumeks, 20/8/09). Tak hanya itu, posisi umat Islam pun semakin dipojokkan, demikian menurut sebagian kelompok yang merasa operasi pemberantasan teroris sudah mulai berlebihan.
Wacana tentang Islam dan terorisme ini akan membangkitkan kembali ingatan tentang bagaimana Islam sesungguhnya, seperti halnya terjadi di Amerika Serikat pasca peritiwa 11 September 2001. Namun, karena penduduk Indonesia yang mayoritas justru menjadikan isu-siu ini semakin ditanggapi memojokkan umat Islam dan tidak demikian ternyata di negeri Paman Sam. Di Amerika, tercatat pasca peritiwa Pentagon justru terjadi peningkatan besar-besar masyarakat yang memeluk agama Islam. Sejak itu pula, Penerbit, Media Massa, dan toko-toko buku justru kebanjiran pelanggan. Pasalnya sama seperti di Indonesia, rasa penasaran terhadap Islam ternyata mennyampaikan mereka pada kesimpulan bahwa tidak ada sama sekali hubungan antara Islam dan terorisme, bahkan sebaliknya, mereka memeluk Islam karena agama ini dianggap humanis, menjunjung tinggi rasa kasih sayang dan toleransi, serta cocok dengan kepribadian mereka. Dipungkiri ataupun tidak ini adalah fakta dan sulit untuk dibantah. Yang menjadi pertanyaan kemudian mengapa di Indonesia aksi teror justru semakin membuat Islam terpojok, padahal hal serupa juga terjadi pada muslim Amerika?
Sepulang dari perang Badar – yang diakui sebagai peperangan paling besar dalam Islam – Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat, “Kita baru saja pulang dari perang kecil, dan sebentar lagi akan menempuh satu peperangan yang lebih besar”. Para sahabat pun terperangah, perang apa gerangan yang lebih besar dari Badar. Rasul pun melanjutkan, “Perang melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan”. Sekelumit kisah tersebut setidaknya memberikan satu gambaran kepada kita bahwa musuh yang paling besar untuk dihadapi oleh umat Islam adalah perang melawan hawa nafsu, bukan peperangan fisik. Maka itu, menahan diri untuk tidak memaksa, meneror dan melakukan kekerasan terhadap sesama dan tidak berdosa merupakan sesuatu yang lebih penting dan bernilai daripada aksi-aksi teror itu sendiri. Pun demikian, ayat dalam al-Qur’an dan praktik yang dilakukan oleh Rasul pun lebih banyak menyuruh umat Islam untuk menjalin perdamaian dan berkasih-sayang daripada melakukan tindakan-tindakan anarkis terhadap sesama.
Dalam konteks sekarang, ilmu pengetahuan semakin maju dan berkembang, sementara umat Islam masih terasa terombang-ambing dengan modernisme dan kemajuan zaman, maka tak ada yang dapat dilakukan kecuali mengejer ketertinggalan yang ada. Ketertinggalan bukan berarti harus dimaknai dengan jihad fisik dengan melakukan pengrusakan, teror, ataupun perang angkat senjata, tetapi justru dengan menggunakan kekuatan ilmu yang dimiliki. Jihad, demikian Rasulullah pernah berkata, salah satunya adalah menuntut ilmu. “Barang siapa yang pergi keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, maka itu dinilai oleh Allah sebagai jihad sampai ia kembali”. Maka itu, kontekstualisasi nilai-nilai Islam dan spirit humanisme Islam yang selalu ditekankan oleh Rasulullah yang kemudian harus menjadi pegangan.
Kembali ke pertanyaan di atas, kesan pemojokan Islam sebagai dalang di balik aksi teror JW Marriot dan Ritz-Carlton setidaknya menjadikan stimulus bagi umat Islam Indonesia untuk menggali kembali bagaimana Islam sesungguhnya. Perubahan zaman dan kemajuan tekonologi saat ini pun tidak dimaknai sebagai penjajahan kelompok lain terhadap Islam an sich, tapi pula pukulan keras bagi umat Islam yang belum mampu mengembangkan ilmu pengetahuan laiknya masyarakat Islam pada abad ke-10 M. Iri hati, dengki dan kekecewaan yang memuncak terhadap kelompok lain justru tidak akan menyelesaikan masalah dan membuat Islam lebih tinggi, tapi semakin membuat Islam “terhalang oleh umat Islam itu sendiri”.
Untuk itulah, sembari menyambut bulan Ramadhan yang beberapa saat lagi akan tiba, dengan tetap berjuang menahan hawa nafsu dan keinginan duniawi yang merusak nilai puasa kita, Bulan ini pun akan menjadi moment penting untuk muhasabah diri dan mendalami nilai-nilai yang telah diajarkan Rasulullah dan para sahabat. Dan semoga, dengan menjalani ibadah ini dengan ikhlas kita mampu mengalahkan musuh terberat yang ada dalam diri kita sendiri dan menjadi hamba-Nya yang bertakwa. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar